Dua Versi Cerita Pendataan Warga dan Pemasangan Stiker Agus-Sylvi

Pendataan nama pemilih dan pemasangan stiker yang dilakukan  relawan pasangan cagub-cawagub, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, diprotes oleh seseorang bernama Tetty Pataresia (43), warga Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur, melalui akun Facebook-nya pada 29 Desember 2016.

Namun, kronologi pendataan dan pemasangan stiker yang diceritakan Tetty tersebut berbeda dengan yang disampaikan sang pemasang stiker, Kamayanti (47). Berikut kronologi pemasangan stiker itu berdasarkan cerita keduanya.
Kronologi versi Tetty
Menurut Tetty, mulanya relawan Agus-Sylvi, Kamayanti, mengaku sebagai petugas kelurahan yang mendata jumlah dan nama pemilih di rumah Tetty pada 29 Desember 2016 lalu.
Data itu ditulis di balik stiker Agus-Sylvi. Setelah mendata, Kamayanti memasang stiker tersebut di jendela rumah.
Kepada Kamayanti, Tetty menyebut itu bisa dijadikan pelanggaran oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta.
Namun, Tetty tetap membiarkan stiker itu dipasang sebagai barang bukti agar Bawaslu menindaklanjutinya.
Tetty memprotes pendataan yang dilakukan relawan Agus-Sylvi tersebut. Dia khawatir data pemilih yang dikumpulkan relawan itu diklaim sebagai pemilih Agus-Sylvi dan dipermasalahkan seusai pemungutan suara pada 15 Februari 2017.
“Kalau nanti paslon satu itu terima data, di Balekambang jumlahnya sekian, tetapi begitu sampai di TPS pada hari H nanti beda, nah itu yang saya khawatirkan, takutnya nanti data yang dipegang paslon satu itu didatangkannya beda sama yang di TPS, takutnya digugat, kita kan enggak tahu,” ujar Tetty, Minggu (1/1/2017).
Menurut Tetty, pendataan yang dilakukan itu hanya dengan menanyakan nama pemilih dan pemasangan stiker Agus-Sylvi, tanpa melihat kartu keluarga (KK) seperti yang dilakukan petugas pemutakhiran data pemilih yang pernah datang ke rumahnya sebelumnya.
Kamayanti datang bersama satu orang lainnya, yakni Aliah (43). Mereka baru diketahui relawan Agus-Sylvi saat datang kembali bersama Panwaslu Jakarta Timur pada 31 Desember 2016 malam.
“Si ibu (yang mendata) itu bilang, ‘Saya bukan timses, Pak. Saya relawan’,” kata Tetty.
Karena diprotes, Aliah yang datang bersama bersama Panwaslu saat itu langsung membersihkan stiker di jendela rumah Tetty.
Kronologi versi Kamayanti
Sementara itu, Kamayanti menuturkan, cerita yang disampaikan Tetty melalui akun Facebook-nya dan kepada media itu berbeda dengan kejadian pada 29 Desember 2016.
Menurut Kamayanti, saat menempel stiker tersebut, dia tidak mengaku sebagai petugas kelurahan (petugas jumantik) seperti yang diceritakan Tetty, tetapi sebagai relawan Agus-Sylvi.
Dia juga menunjukkan surat tugas dari relawan Agus-Sylvi, yakni Barak (Barisan Rakyat).
“Saya bilang begini, ‘Ibu, saya mau data sebentar, tapi saya bukan petugas kelurahan. Saya dari ini tugasnya sekarang’. Aku tunjukkin surat tugas Agus-Sylvi nomor 1,” ujar Kamayanti, Kamis (5/1/2017).
Saat datang, Kamayanti mengaku diterima dengan baik oleh Tetty. Dia mendata nama pemilih di rumah Tetty beserta nomor ponsel di balik stiker Agus-Sylvi.
Setelah mendata, Kamayanti dan Aliah (43) meminta izin untuk memasang stiker Agus-Sylvi di jendela rumah Tetty.
Menurut Kamayanti, Tetty mempersilakan dan tidak mengatakan bisa dijadikan pelanggaran oleh Bawaslu.
Saat memasang stiker, lanjut Kamayanti, Tetty memang mengatakan bahwa dia bukan pemilih Agus-Sylvi, melainkan pendukung Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat.
Kamayanti menyebut hal itu merupakan hak Tetty. “Memang benar dia bilang ‘Saya pilih nomor 2’. Kalau milih masing-masing silakan. Saya cuma mau nempel itu doangngerjain tugas doang, itu hak ibu’, saya bilang. Begitu doang,” kata Kamayanti.
Setelah mendata nama pemilih di kertas stiker, kertas di balik stiker tersebut diberikan kepada Koordinator Relawan Barak Kelurahan Balekambang.
Data itu disebut digunakan sebagai bukti bahwa relawan benar mendatangi rumah warga untuk menempel stiker.
Bantahan tim Agus-Sylvi
Kamayanti mengaku diajak untuk memasang stiker tersebut oleh Koordinator Relawan Barak Kelurahan Balekambang.
Mulanya, dia tidak datang. Namun, kemudian dia dihubungi melalui pesan singkat oleh koordinator Barak.
Dia diminta untuk mengikuti penyuluhan. Kamyanti baru tahu penyuluhan tersebut merupakan pembekalan untuk memasang stiker Agus-Sylvi di rumah-rumah warga.
Selain Kamayanti, ada 38 orang lainnya yang juga menjadi relawan dan memasang stiker di rumah-rumah warga.
“Relawan semua, terdaftar di Barak, ada semua. Dari Barak, ada atasan-atasan. Saya enggak nempel-nempel (stiker) kalau enggak ada yang ngoordinasi. Enggak berani,” ucap Kamayanti.
Dia mengaku kapok setelah pemasangan stiker yang dilakukannya itu menuai protes. Dia tidak ingin melanjutkan memasang stiker Agus-Sylvi. Kamayanti juga mengembalikan stiker yang masih tersisa.
Sementara itu, Ketua Bidang Liaison Officer (LO) dan Protokol Tim Pemenangan Agus-Sylvi, Anis Fauzan, mengatakan, orang yang memasang stiker di rumah warga di Balekambang bukan relawan mereka.
“Soal stiker itu kami kemarin tim hukum juga sudah konfirmasi bahwa itu bukan bagian dari tim kami yang pasang. Desainnya berbeda dengan desain yang kita punya,” ujar Anis, Rabu (4/1/2017).
Anis mengatakan, desain stiker dari tim pemenangan Agus-Sylvi dominan berwarna hitam dan oranye. Sementara itu, stiker yang dipasang oleh relawan itu berlatar putih dengan tulisan “AGUS SYLVY #JAKARTAUNTUKRAKYAT” serta bergambar bendera merah putih dan angka 1 di sisi kirinya.
Anis menyebut pemasang stiker tersebut tidak masuk dalam daftar relawan Agus-Sylvi. Selain itu, Anis menyebut tim pemenangan Agus-Sylvi belum pernah mencetak stiker.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *