Kadisos Yulizar; 50 Ton Beras itu dari Pemerintah Provinsi

ilustrasi
PESAWARAN (PeNa)-Pemerintah Kabupaten Pesawaran membantah telah memberikan beras busuk (tak layak konsumsi) kepada korban banjir. Menurutnya beras yang diberikan pemerintah kabupaten kepada korban banjir tersebut merupakan terusan dari pemerintah provinsi.
Yulizar juga membenarkan jika beras yang diterima korban banjir itu sudah tidak layak konsumsi karena dari bentuk fisik dan bau sudah tidak memungkinkan.
“Setelah kamu (PeNa) menghubungi pak Sekda, saya langsung kena tegur dan kami langsung turun kelapangan untuk mengkros cek. Dan memang benar kalau beras itu dalam kondisi rusak,” kata dia.  
“Soal beras jelek itu memang benar, sudah saya konfirmasi dilapangan. Tapi, beras tersebut bukan bantuan dari kami melainkan dari pemprov,” imbuhnya, Jumat (24/2).
Kepada PeNa, Yulizar mengaku perlu menegaskan hal tersebut, karena memang pemda pesawaran belum memberikan bantuan berupa beras. “Perlu saya tegaskan, bahwa pemda pesawaran belum membagikan beras kepada korban bencana. Karena ini masih dibahas dan dirapatkan dengan uspida lainnya, ” kilahnya. 
Pemerintah memberikan bantuan beras tak layak konsumsi, akibatnya banyak korban banjir dibeberapa kabupaten di Lampung yang enggan mengolahnya.
Bantuan beras pemerintah yang diambil dari Badan Urusan Logistik (bulog) tersebut berbau, berwarna kusam dan banyak kotoran. Kendati dalam keadaan serba sulit, korban banjir memilih untuk mengkonsumsi beras warung.
“Ini beras bantuan dari pemerintah mas, itu masih sisanya dikarung yang ada tulisannya bulog. Kami tidak berani mengkonsumsinya. Lihat saja sendiri, khawatir aja,” kata salah seorang warga Karang Anyar Gedong Tataan.
Imron (48), warga lain juga mengakui hal yang sama. “Beras ini sangat tidak layak untuk dikonsumsi, selain banyak kotorannya beras juga warnanya sudah rusak, ” kata dia, Jumat (24/2).
Menurutnya, pasca bencana banjir warga korban bencana tersebut dibagi bantuan dari pemda sebanyak lima kilogram perkepala rumah tangga. Namun saat akan dimasak, berasnya ternyata buruk. Takut terjadi sesuatu, kemudian Imron urung memasaknya dan akhirnya membeli beras diwarung. “Saat mau dimasak, kondisi beras buruk. Banyak kotoran dan warnanya rusak. Takut terjadi sesuatu, lalu saya beli beras sendiri ke warung, ” tuturnya. 
Semua warga disini tidak ada yang mau memasaknya, ujar dia, selain bercampur kotoran berasnya juga hancur. 
“Semua warga mengeluh beras bantuan dari Pemkab Pesawaran tidak layak konsumsi, bahkan ayam saja tidak mau makan, berasnya patah-patah, warna kuning dan berdebu,” ujar dia,diamini warga lainnya. PeNa-spt. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *