Pesawaran Darurat DBD

ilustrais.net

PESAWARAN (PeNa)-Buruknya sanitasi dilingkungan padat penduduk menjadi salah satu penyebab jentik nyamuk aedes aegypti meningkat. Hal tersebut menjadi sumber wabah demam berdarah bertambah banyak diderita korban.

Kongkritnya, dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini sudah 88 kasus DBD tercatat. Namun demikian dari jumlah tersebut belum ada yang meninggal, sehingga tidak termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB). “Ini tidak termasuk KLB, karena dari catatan kami masih tergolong darurat DBD. Karena tidak ada yang sampai meninggal dunia, semua pasien masih dapat kita tolong dan dilingkungannya sudah dilakukan pencegahan. ” kata Kapuskesmas Gedong Tataan dr. Imelda.

Menurutnya, penyuluhan door to door oleh bidan desa juga sudah dilakukan. Juga koordinasi dengan aparat desa dan kecamatan soal DBD pun selalu intensiv dilaksanakan. “Kalau koordinasi dengan desa dan kecamatan soal DBD selalu intens kita lakukan. Bahkan kita sudah gerakan bidan desa untuk penyuluhan door to door dalam penggunaan abate dan gerakan 3M plus. ” ungkapnya.

Diakuinya, kasus DBD belakangan ini meningkat tiga kali lipat. “Belakangan ini, kasus DBD terus meningkat karena buruknya sanitasi dilungkungan sehingga jentik nyamuk banyak, ” kilahnya.

Diwilayah kami memang masuk dalam daerah endemik nyamuk aedes aegypti,karena tiga tahun secara berturut-turut masyarakatnya ada yang terkena demam berdarah dangue (DBD). “Memang diwilayah kami masuk kategori endemik DBD. Karena tiga tahun secara berturut-turut ada beberapa pasien yang teridentifikasi DBD, ” kata dia.

Imelda juga menuturkan, warga yang meninggal (Putri Mulyasari)  dari dusun VII tersebut meninggal dunia bukan karena DBD. Akan tetapi karena sepsis atau infeksi secara menyeluruh pada organ tubuhnya. “Kalau Putri Mulyasari itu meninggal bukan karena DBD, tapi karena sepsis atau infeksi secara menyeluruh pada organ tubuhnya, ” tuturnya.

Dijelaskannya, untuk pencegahan pembasmi nyamuk tersebut sudah dilakukan secara periodik dan insidentil pada daerah tertentu ketika ada pasien yang teridentifikasi DBD.”Kalau pencegahan sudah kami lakukan secara periodik. Bahkan jika ada pasien yang teridentifikasi DBD, maka diwilayahnya kita lakukan fogging, ” jelas dia.

Salah satu contoh,  kata dia,  pasien yang bernama Arin Riskia Falihah adalah pasien DBD yang dirawat di RS Bumi Waras. Ketika mendapatkan keterangan dari rumah sakit tersebut, bahwa pasien adalah teridentifikasi DBD maka dilingkungan asalnya langsung kita lakukan fogging.

“Seperti Arin Riskia Falihah, anak ini kemarin terkena DBD kemudian dirawat di Rumah Sakit Bumi Waras. Setelah sembuh, kemudian rumah sakit tersebut mengirimkan surat bahwa yang bersangkutan terkena DBD. Maka kita langsung lakukan fogging dilingkungannya, ” ucapnya.

Dibeberkan, estimasi sementara sejak bulan November sampai dengan Desember sekarang sudah tercatat 88 pasien yang teridentifikasi DBD. “Kalau estimasi sementara, sejak November sampai sekarang (Desember) tercatat 88 pasien, ” bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran Harun Trijoko mengatakan bahwa kasus nyamuk yang menyebabkan demam berdarah tersebut sudah dilakukan pencegahan secara dini. Hanya saja, diakhir tahun ini memang lebih meningkat.
“Pencegahan sudah kita lakukan sejak dini dan secar berkala. Seperti pengasapan dan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penerapan Mplus.,” kata dia.

Harun juga akan mengupayakan kegiatan tersebut dilakukan lebih intensif lagi ditahun yang akan datang. “Kedepan kita upayakan lebih intensif lagi kegiatan tersebut. Selain itu, kita juga akan menguntensifkan kader jemantik untuk lebih maksimal dalam mengawasi lingkungannya, ” pungkasnya. PeNa-spt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *