USBN, Cara Sekolah Mengetahui Daya Serap Pendidik

TANGGAMUS (PeNa)-Peran sekolah untuk dapat terlibat langsung dalam pembuatan soal ujian mendapat dukungan dari Mantan pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Samsul Hadi.
Samsul yang juga Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus menjelaskan dengan pelaksanaan ujian sekolah berbasis nasional (USBN) sebagai pengganti ujian nasional (UN) pada tahun 2017 mendatang, akan melibatkan peran sekolah dengan porsi yang lebih besar.
“Dengan USBN maka sekolah diberikan kewenangan untuk ikut ambil bagian dalam membuat soal ujian. Karena dalam USBN materinya 25% dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI dan 75% dibuat oleh sekolah,” ujarnya.
Kebijakan pemerintah tersebut disambut baik, bahkan dengan adanya perubahan tersebut pihak sekolah akan mengetahui secara pasti kemampuan dan daya serap murid terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
“Kalau memang keputusan pusat sudah seperti itu, ya, kita sambut baik.Dalam sistem USBN ini sekolah dilibatkan dalam membuat materi soal, jadi tentu tahu kemampuan siswanya sepeti apa, karena sejauh mana evaluasi yang tahu itu ya, yang mengajar, dan saya nilai USBN ini adalah langkah tepat,” ujar Samsul, Selasa (6/12).
Sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah lanjut Samsul, pasti ada untung dan ruginya. Dilihat dari sisi kerugian yakni daerah tidak tahu standar nasional kelulusan itu seperti apa karena yang digunakan adalah soal dari dinas pendidikan daerah.
“Kemudian anak-anak Tanggamus yang nantinya akan memilih melanjutkan sekolah keluar daerah tentu akan mengalami kesulitan karena adanya perbedaan kualitas pendidikan. Kalau keuntungannya dari sistem ini, guru yang mengajar adalah pengujinya sendiri,” ungkapnya.
Kendati soal dibuat oleh sekolah, Samsul tetap berharap agar ada passing grade untuk menentukan siswa berhak dilulusan atau mengulang.
“Ya, harus ada passing gradenya sebagai suatu standar, kalau tidak ada itu, bisa makin parah pendidikan kita,” kata dia.
Untuk USBN sendiri, dipastikan masih banyak sekolah yang menggunakan LJK.” Memang ada beberapa sekolah tahun lalu sudah menggunakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK), tapi masih banyak juga sekolah yang belum memadai fasilitasnya, jadi saya rasa masih ada sekolah menggunakan ujian berbasis kertas,” kata wabup.(Opoy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *