Aris Meraup Keuntungan dari Kepulan Laba Usaha Nasi Bakar

LAMPUNG SELATAN (PeNa) – Nasi bakar merupakan makanan cukup sederhana, meski terbilang sederhana tapi selalu menarik untuk dicicipi. Tidak hanya kuat dengan kesan alaminya yang menggunakan daun pisang sebagai pembungkus nasi, tapi aroma bau hangus daun pisang terbakar dengan bara arang menebarkan aroma kenikmatan yang khas dan menggunggah selera makan.

Tidak ada yang tahu secara pasti dari mana asal makanan nasi bakar yang mulai kian populer sekitar tahun 2008 itu. Namun tiap kali mendengar namanya pikirannya langsung melayang ke sekepal nasi gurih yang dibungkus daun pisang menyerupai lontong, biasanya diisi suwiran daging ayam, ikan dan juga teri.

Salah satu keistimewaan dari nasi bakar ini, adalah aroma dan rasanya yang unik. Umumnya, nasi bakar berasa gurih karena bumbu. Bentuknya juga beragam, begitu juga dengan bungkusnya ada yang bentuknya slinder atau agak bulat dan cukup bervariasi macam nasi bakar, hal itu tergantung dari kreativitas pembuatnya.

Seperti halnya “Nasi Bakar LS”, usaha kuliner milik Aris Setiawan (36), warga Dusun Krajan Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan ini sukses meraup kepulan laba dari menggeluti usaha kuliner Nasi Bakar di wisata kuliner malam Desa Wisata Kuliner Sidorejo (Deswita Linerrejo) di Jalan Raya Sidomulyo, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan yang menyajikan santapan nasi bakar beraneka varian rasa.

Jika biasanya, nasi bakar menggunakan nasi uduk sebagai bahan dasarnya. Tapi lain halnya dengan nasi bakar hasil inovasi Aris, yakni memadukan nasi putih dicampur aneka racikan bumbu dan diberi isian daging ayam, kambing, ati ampela, cumi, udang, telur puyuh dan serta diberi tambahan daun kemangi lalu dibungkus dengan daun pisang.

“Bahan Nasi bakar ini dari beras yang dimasak terlebih dulu, setelah itu di dicampur dengan aneka racikian bumbu dan prosesnya memakan waktu dua jam. Selanjutnya nasi didinginkan terlebih dulu baru diberi isian daging, telur puyuh dan daun kemangi lalu dibungkus daun pisang,”kata Aris saat ditemui di kedainya di area wisata kuliner “Deswita Linerrejo”, Minggu (19/5/2019) malam.

Aris mengatakan, aneka bumbu yang digunakan untuk racikan nasi bakarnya, seperti bawang merah, bawang putih dan bawang bombay, cabai, garam, sere, penyedap rasa dan aneka bumbu lainnya. Untuk menambah aroma kelezatannya, yakni diberi tambahan daun kemangi.

“Nasi yang sudah dibungkus daun pisang dan siap saji ini, mulai proses dibakarnya diatas bara arang saat ada pembeli. Cara ini digunakan, selain gurih juga membuat tekstur nasi bakar memiliki aroma khas dari daun pisang dan nasi bakar yang disajikan ke pembeli masih dalam kondisi baru matang,”ujarnya.

Dikatakannya, varian rasa nasi bakar yang ditawarkannya pun tergolong inovatif, ada nasi bakar isi daging ayam, nasi bakar isi daging kambing, nasi bakar isi cumi, nasi bakar isi udang dan nasi bakar iai ati ampela dan diberi tambahan telur puyuh, sosis dan diberi daun kemangi. Karena kreasi dan inovasinya itu, tak heran Aris mampu meraup omset dari kepulan asap usaha kulinernya hingga puluhan juta rupiah perbulan.

“Satu porsi nasi bakar aneka varian rasa ini, dijual Rp 10 ribu saja. Setiap harinya, saya buat 10 Kg atau sekitar 70 bungkus nasi bakar dan modal yang dikeluarkan Rp 500 ribu. Tapi untuk di bulan suci ramadhan 1440 H/2019 ini, saya agak mengurangi porsi jualannya,”ucap bapak dua orang anak ini.

Aris menceritakan, bakat dagang usaha makanan yang mengalir dalam dirinya, bukanlah warisan dari kedua orangtuanya. Melainkan didapat saat ia bekerja sebagai buruh serabutan hingga menjadi juru masak. Tahun 2010 lalu, dia pergi merantau untuk mencari pekerjaan lain di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Karena sulitnya mencari pekerjaan di perusahaan, Aris yang hanya lulusan sekolah Madrasah Aliyah Mathlalul Anwar (MA) Sidorejo tahun 1999 ini, akhirnya mendapat pekerjaan di Pondok pesantren “Ibnu Taimiyah” di Jawa barat yakni dibagian dapur. Saat di Ponpes inilah, dirinya mendapatkan ilmu memasak hingga bisa membuat aneka menu makanan.

“Tiga tahun saya kerja di dapur jadi juru masak di Ponpes itu, tahun 2014 saya pulang ke Lampung dan mencoba buka usaha kuliner sendiri. Tapi saya belum buat nasi bakar isi aneka varian rasa ini, hanya nasi bakar biasa saja,”ungkapnya.

Pada tahun 2016, Aris memutuskan mencoba merintis usaha kuliner nasi bakar. Satu tahun berjalan, Aris belum menemukan rasa yang pas. Alhasil, penjulan kulinernya terbilang masih stagnan dan tidak mengalami peningkatan. Bahkan Aris cenderung merugi, karena bara arang harus tetap menyala dan hanya beberapa kali saja digunakan untuk membakar olahan nasi bakarnya.

Meski berkali-kali gagal membangun usaha, tidak memupuskan harapan dirinya untuk tetap terus berwirausaha. Aris mencari cara untuk memanfaatkan bara arang, ia pun kemudian mengutak-atik untuk mendapatkan khas nasi bakar hasil inovasinya tersebut. Akhirnya, didapat menu racikan resep bumbu nasi bakar yang pas dan khas. Jika sebelumnya hanya nasi bakar isi daging ayam, lalu dia membuat nasi bakar banyak varian rasa seperti nasi bakar isi daging kambing, isi cumi, udang dan ati ampela ditambah telur puyuh.

“Di tahun 2017 itulah, menjadi awal bagi saya dan istri Umi Sa’adah (37) memulai usaha kuliner nasi bakar aneka varian rasa tinggal bagaimana menyesuaikan seleranya saja. Hasilnya, menu nasi bakar aneka varian rasa hasil inovasi saya sendiri ini ternyata banyak diminati dan diburu pembeli pecinta kuliner,”terangnya.

Karena menghadirkan menu baru, lebel usaha kulinernya diberi nama “Nasi Bakar LS”. Nama LS ini sendiri, kata Aris, sengaja digunakan untuk mengangkat nama Lampung Selatan. Lebel nama usaha kulinernya tersebut, terpampang jelas di banner yang dipasang di gerobak kulinernya di area kuliner malam “Deswita Linerrejo” di lapangan Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo.

Agar semakin dikenal, Aris sering membagikan tester nasi bakar aneka varian rasa hasil kreasinya itu kepada pengunjung yang datang di wisata kuliner malam Deswita Linerrejo. Menurutnya, bahwa bagi-bagi tester itu bertujuan agar pengunjung yang datang mengetahui cita rasa nasi bakar hasil inovasinya itu. Selanjutnya, proses promosi berlangsung alami dari mulut ke mulut para pengunjung.

Meski hanya mengandalkan promosi sederhana, namun cita rasa nasi bakarnya yang gurih dan lezat ini, membuat tempat usaha kulinernya itu selalu ramai dipenuhi pembeli. Hanya berselang tiga jam, nasi bakar Aris sudah ludes terjual. Alhasil, Aris pun mampu meraup omset terbilang cukup fantastis.

“Paling ramai pembelinya di “Deswita Linerrejo” ini saat malam minggu. Kalau hari-hari biasa saya biasa buat hanya 10 Kg, tapi kalau pasa malam itu (minggu) saya buatnya 12 Kg hingga 15 Kg dan itu sudah pasti ludes semua diburu pembeli,”bebernya.

Diakuinya, usaha kuliner nasi bakar miliknya ini, paling diburu masyarakat para pencinta kuliner tidak hanya di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan saja bahkan dari luar daerah. Mengenai omzet yang didapat dari usahanya, ia mendapat keuntungan Rp 500 ribu setiap harinya. Jika dihitung dalam sebulan, omzet kotor yang didapat Aris mencapai Rp 15 juta.

“Omzet sebulan saya dapat Rp 15 juta, dan itu masih kotor. Setelah dipotong biaya beli bahan baku, bayar gaji pegawai dan biaya operasional lainnya laba bersih yang saya dapat Rp 10 juta atau sekitar 75 persen. Dari usaha kuliner nasi bakar aneka varian rasa yang saya geluti selama dua tahun hingga sekarang ini, lebih dari cukup keuntungannya dan alhamdulillah bisa membiayai kebutuhan keluarga, buat rumah dan masih banyak lainnya lagi,”pungkasnya. zaibento

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.