Seniman Myanmar Aye Ko Raih Penghargaan Joseph Balestier 2017

Seniman Myanmar Aye Ko Raih Penghargaan Joseph Balestier 2017

Seniman asal Myanmar Aye Ko berhasil memenangkan penghargaan Joseph Balestier 2017 untuk kebebasan seni yang diselenggarakan oleh Art Stage Singapore dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Singapura. Aye Ko mengalahkan dua rival seniman perempuan lainnya yang turut dinominasikan, Arahmaiani asal Indonesia dan Chaw Ei Thein asal Myanmar.

Pemenang diumumkan saat malam penganugerahan di Rumah Duta Besar Amerika untuk Singapura, Kirk Wagar, pada Selasa (10/1/2017) malam. “Kami memulai penghargaan Joseph Balestier tiga tahun lalu dengan pemenang utama FX Harsono asal Indonesia. Tahun ini untuk pertama kalinya, dua seniman perempuan dinominasikan di ajang penghargaan ini,” ujar Kirk Wagar, dalam sambutannya di kediamannya, Jalan Leedon, Singapura.
Nama-nama yang masuk nominasi diseleksi oleh tim dewan juri yang terdiri dari kurator independen Enin Supriyanto, Direktur Centre for Contemporary Art (CCA) Singapore Professor Ute Meta Bauer, Artistic Director The Factory Contemporary Art Centre Vietnam Zoe Butt. Ketiganya menggodok nama-nama yang masuk hingga diputuskanlah Aye Ko yang mendapatkan hadiah senilai $15,000 USD atau sekitar Rp 195 juta.

Seniman Myanmar Aye Ko Raih Penghargaan Joseph Balestier 2017


Pendiri dan Presiden Art Stage, Lorenzo Rudolf, mengatakan Aye Ko pantas menerima penghargaan ini karena karya artistiknya dan membawa perubahan di masyarakat Myanmar. “Dia sudah dua kali dinominasikan sejak penghargaan The Joseph Balestier diadakan, dan sudah sepantasnya Aye Ko mendapatkan penghargaan ini,” tutur Lorenzo.
Aye Ko dikenal sebagai performance artist. Lebih dari 20 tahun, dia telah menjadi seniman serta menyoal isu alam dan politik. Sejak tahun 1988 hingga 1990, dia berpartisipasi di revolusi dan terlibat dalam gerakan demokrasi di Myanmar. Di tahun 1990, dia dibui selama tiga tahun dan setelah bebas melanjutkan pekerjaannya sebagai seniman.
Karya-karyanya telah berhasil ditampilkan di banyak festival dunia. Di antaranya Asia Topia Performance Art Festival di Thailand, dan lain-lain. Di bawah penegakan hukum yang keras di Myanmar tentang performance art, dia juga pernah dibui selama tiga bulan. Kini, Aye Ko bersama koleganya mendirikan ‘New Zero Art Space’ dan membagi ide-ide keseniannya pada publik.
“Bagi saya penghargaan ini penting sekali. Sampai sekarang saya demokrasi masih menjadi barang berharga dan lewat New Zero Art Space kami masih memperjuangkannya,” pungkasnya.
Penghargaan Joseph Balestier diambil dari nama diplomat Amerika di Singapura. Serta dikhususkan bagi seniman Asia Tenggara yang berkomitmen memperjuangkan tentang kebebasan berekspresi dalam seni.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *