Lampung Selatan – (PeNa), Tradisi mudik tak selalu soal kenyamanan kendaraan mewah. Bagi Muhammad Budi Wahyu Candra, perjalanan panjang justru terasa lebih “hidup” saat dilalui dengan sepeda motor.
Sudah tujuh tahun terakhir, sejak 2019 hingga 2026, ia konsisten menempuh rute Jakarta Selatan–Lampung Barat (Kebun Tebu) bersama istri dan anaknya.
Ditemui di kawasan Kalianda, Lampung Selatan, Rabu (25/3/2026), Candra tengah bersiap kembali ke Jakarta usai merayakan Lebaran di kampung halaman.
Meski membawa keluarga kecilnya, ia tetap setia memilih motor sebagai moda utama mudik. Perjalanan jauh itu bukan tanpa alasan.
Selain lebih hemat, motor memberinya keleluasaan mengatur ritme perjalanan, terutama saat bepergian dengan anak kecil.
“Pertama karena saya bawa anak kecil, kalau naik bus atau travel kan nggak enak kalau anak mau makan, minum susu, atau ganti pampers. Jadi lebih fleksibel pakai motor,” ujar Candra.
Ia mengaku, dari sisi biaya, pilihan tersebut jauh lebih ringan. Jika menggunakan bus, ongkos dari Jakarta Selatan ke Lampung Barat bisa mencapai Rp550 ribu per orang.
Sementara dengan motor, total biaya bensin dan makan hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.
“Kalau dibanding biaya memang lebih murah. Bensin sama makan paling Rp150 sampai Rp200 ribu, jauh dibanding bus,” katanya.
Meski begitu, perjalanan tetap menantang. Apalagi saat membawa anak kecil yang membutuhkan perhatian ekstra di perjalanan.
“Kalau saya sendiri bisa 3 jam dari Lampung Barat ke Tanjung Karang. Tapi karena bawa anak, kemarin berangkat jam 8 pagi, sampai jam 4 sore,” jelasnya.
Candra pun harus lebih sering berhenti dibanding saat bepergian hanya berdua dengan istrinya.
“Kalau bawa anak kecil ya sering berhenti. Mereka kan belum bisa bilang capek atau lapar, jadi kita harus peka,” ucapnya.
Perjalanan Panjang, Pelayanan Petugas Jadi Penopang
Di balik perjalanan panjang itu, Candra mengapresiasi kondisi jalan dan kesiapan petugas di Lampung yang dinilai semakin baik dari tahun ke tahun. Ia merasakan langsung perbedaan signifikan dibanding mudik sebelumnya.
“Untuk tahun ini alhamdulillah jalan lintas di Lampung sudah jauh lebih bagus dibanding tahun sebelumnya,” katanya.
Tak hanya infrastruktur, pelayanan petugas di lapangan juga menjadi perhatian. Ia menilai kehadiran aparat sangat membantu kelancaran arus mudik.
“Petugas dari Dishub dan polisi sudah siaga, pengaturannya juga sudah lumayan bagus,” ujarnya.
Meski demikian, ia sempat mengeluhkan rekayasa lalu lintas di wilayah Terbanggi Besar yang dinilai membuat perjalanan menjadi lebih panjang.
“Kemarin di Terbanggi Besar harus muter lewat Teluk Betung, padahal jaraknya dekat. Itu cukup menghambat perjalanan,” tuturnya.
Pengalaman lain yang tak terlupakan terjadi saat motor yang sudah dicek matang justru mengalami kerusakan di dekat Pelabuhan Ciwandan. Beruntung, ia mendapat bantuan dari gerai resmi yang masih buka.
“Motor sempat rusak di Ciwandan, untung ada gerai Yamaha yang bantu. Kalau nggak, mungkin perjalanan bisa lebih lama lagi,” kata dia.
Bagi Candra, mudik naik motor bukan sekadar perjalanan, melainkan bagian dari cerita keluarga yang terus berulang setiap tahun. Meski penuh tantangan, kebersamaan di jalan menjadi alasan utama ia tetap bertahan dengan pilihan tersebut.






