Topeng, Tawa, dan Tradisi: Sekura Menghidupkan Lebaran di Lampung Barat

Lampung Barat – (PeNa), Lampung Barat kembali bergeliat usai Lebaran. Ribuan warga memadati sejumlah titik, merayakan Pesta Budaya Sekura yang selalu dinanti.

Peserta dari berbagai pekon dan kecamatan turun ke jalan. Mereka membawa kostum unik, penuh warna, dan sarat makna. Suasana pun berubah riuh, hidup, dan penuh kegembiraan khas Lebaran.

Bacaan Lainnya

Sekura Kamak tampil bebas dan nyeleneh. Topeng, pakaian lusuh, hingga aksesoris tak biasa jadi ciri utama. Sementara Sekura Betik hadir rapi dengan kain miwang dan atribut tradisional khas Lampung Barat.

Perbedaan itu justru menyatu. Sekura Kamak dan Betik membentuk harmoni budaya yang tetap terjaga.

Tradisi Lama, Energi Baru

Sekura bukan sekadar hiburan. Tradisi ini sudah hidup ratusan tahun sebagai ungkapan syukur usai Ramadan dan ajang silaturahmi warga.

Topeng yang dipakai menyamarkan identitas. Semua orang berbaur tanpa sekat. Lewat kostum, warga juga menyampaikan kritik sosial secara halus.

Tahun ini, Sekura digelar di sejumlah titik, seperti Balik Bukit, Kebun Tebu, Belalau, dan Batu Brak.

Khoi, peserta dari Batu Brak, menilai Sekura sebagai bagian penting identitas daerah.

“Setiap tahun kami pasti ambil bagian dalam memeriahkan pesta budaya sekura ini, karena kalau bukan kita yang menjaga tradisi dan budaya siapa lagi, yang penting tetap menjunjung tinggi etika,” katanya, Minggu (22/3/2026).

Ia menyebut kelompoknya rutin ikut di berbagai lokasi.

“Setiap tahun, dimanapun titik pelaksanaan Sekura Anker Squad selalu hadir untuk meramaikan, melestarikan dan mengenalkan pesta budaya sekura kepada wisatawan dari dalam ataupun luar daerah agar semakin di kenal,” ujarnya.

Rama, peserta dari Balik Bukit, juga merasakan hal yang sama.

“Udah lama, dari kecil udah sering ikut abang sampai sekarang masih sering ikut, karena orang dari Lampung Barat aja bangga dengan sekura masa kita sebagai penyelenggara engga bangga, maka tugas kita sekarang adalah melestarikan seni budaya di Lampung Barat,” katanya.

Pengunjung pun ikut larut. Deni, pemudik dari Bandar Lampung, mengaku sengaja datang.

“Kebetulan mudik bareng istri tahun ini ke Lampung Barat jadi sekalian nonton, karena selama ini hanya liat seliweran di sosmed sekarang bisa liat langsung, acaranya memang keren sih,” ujarnya.

Rika, pengunjung dari Pesisir Barat, menilai Sekura unik dan kreatif. Ia berharap tradisi ini terus dijaga dan dikenalkan ke generasi muda.

Sekura tak sekadar pesta. Tradisi ini menjadi identitas kuat yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *