BANDARLAMPUNG – (PeNa), Pagi itu, Sabtu 9 Mei 2026, suasana di Jalan ZA Pagar Alam, Bandar Lampung, masih lengang. Namun di depan Toko Yussy Akmal, dentuman senjata api memecah ketenangan kota. Seorang anggota polisi, Brigpol Arya Supena (32), roboh bersimbah darah setelah berusaha menggagalkan aksi pencurian motor.
Arya, anggota Sat Intelkam Polda Lampung, disebut memergoki dua pelaku curanmor yang tengah beraksi sekitar pukul 06.00 WIB. Tanpa ragu, ia mencoba menghentikan pelaku hingga terjadi duel di lokasi kejadian. Namun pelaku yang diduga membawa senjata api melepaskan tembakan ke arah kepala korban. Brigpol Arya tersungkur dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa itu bukan sekadar tragedi kriminal biasa. Di tubuh Polda Lampung, gugurnya Brigpol Arya seperti membuka kembali luka lama yang belum benar-benar sembuh selama lebih dari satu dekade.
Sebab, sebelas tahun silam, tepatnya 27 Agustus 2015, seorang anggota Brimob Polda Lampung bernama Bharada Jefry Saputra juga gugur ditembak pelaku curanmor saat mengejar penjahat di kawasan Kedaton, Bandar Lampung.
Tragedi 2015 yang Melahirkan Tekab 308 Polda Lampung
Kala itu, Jefry sedang berada di ATM ketika motornya dibawa kabur pelaku. Ia berusaha mengejar, tetapi para pelaku ternyata membawa senjata api. Dua peluru bersarang di tubuh anggota Brimob tersebut hingga nyawanya tak tertolong.
Kematian Bharada Jefry menjadi titik balik perang besar Polda Lampung terhadap kejahatan jalanan. Tiga hari setelah kejadian, tepat pada 30 Agustus 2015, tim khusus anti bandit dibentuk oleh Kapolda Lampung saat itu, Brigjen Pol (Purn) Edward Syah Pernong.
Nama “Tekab 308” pun lahir dari tragedi tersebut.
Angka “308” diambil dari tanggal keberhasilan pengungkapan kasus penembakan Bharada Jefry, yakni 30 Agustus atau 30/8. Sejak saat itu, Tekab 308 menjadi simbol perlawanan Polda Lampung terhadap begal dan curanmor bersenjata.
Mantan Kapolda Lampung Edward Syah Pernong pernah mengungkap alasan pembentukan tim tersebut.
“Atas apa yang menimpa Bharada Jefry, dibentuklah tim khusus untuk memburu kawanan pelaku curanmor yang menembak mati personel Brimob Polda Lampung,” kata Edward dalam peringatan HUT Tekab 308.
Kini, nama Brigpol Arya Supena menambah daftar anggota kepolisian yang gugur saat berhadapan dengan pelaku curanmor di Lampung.
Brigpol Arya Jadi Korban Terbaru Kebrutalan Pelaku Curanmor di Lampung
Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf memastikan pengejaran besar-besaran sedang dilakukan terhadap pelaku penembakan Arya. Ia menegaskan tidak ada ruang bagi pelaku kejahatan bersenjata yang menyerang aparat maupun masyarakat.
“Sekarang tim sedang melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap para pelaku,” ujar Helfi Assegaf.
Ia juga menegaskan, “Tidak ada toleransi bagi pelaku.”
Tak hanya itu, Polda Lampung juga mengusulkan kenaikan pangkat luar biasa anumerta bagi Brigpol Arya sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya.
Di Lampung, curanmor bukan lagi sekadar pencurian kendaraan. Dalam banyak kasus, para pelaku tak segan membawa senjata api dan menyerang siapa pun yang menghalangi aksi mereka.
Dan sejarah mencatat, dua anggota polisi gugur dalam rentang waktu berbeda karena keberanian yang sama: memilih melawan meski nyawa menjadi taruhan.
Dari Bharada Jefry Saputra pada 2015 hingga Brigpol Arya Supena pada 2026, perang melawan bandit jalanan di Lampung ternyata belum benar-benar usai.
Gugurnya Brigpol Arya Supena mengingatkan kembali tragedi Bharada Jefry Saputra pada 2015, yang menjadi awal lahirnya Tekab 308 Polda Lampung, simbol perang melawan curanmor bersenjata di Lampung.






