LF 2017, Budaya Lampung Sukses Jadi Tamu di Negeri Sendiri

Bandarlampung (PeNa)-Gelaran Lampung Fair (LF) 2017 terus menuai kritik, pilihan PT. Grand Modern selaku Event Organizer (EO) dengan lebih menonjolkan budaya Kuda Lumping dan Reog Ponorogo sebagai ajang lomba dan mengenyampingkan kearifan lokal hingga orientasi bisnis panitia,  semakin menguatkan asumsi yang berkembang jika LF  2017 justru hanya sarana pihak-pihak tertentu untuk meraih .

Alhasil LF yang dahulunya dikenal sebagai ajang Pemerintah Kabupaten/Kota menunjukkan hasil-hasil pembangunan dan suguhan atraksi budaya lokal, kini justru lebih berorientasi bisnis dan masyarakat  harus membayar sejumlah uang hanya untuk melihat kinerja pemerintah daerah dengan mendatangkan Artis Ibukota dan berbagai macam lomba sebagai magnet.

Aktivis Komunitas Baca Indonesia Provinsi Lampung, Gunawan Handoko saat ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jum’at (15/12) berpendapat jika telah terjadi pergesaran nilai dan disorientasi pada pelaksanaan LF 2017, kegiatan yang seharusnya menjadi suguhan gratis bagi masyarakat guna melihat apa saja upaya dan hasil pembangunan di berbagai aspek  yang telah di lakukan pemerintah daerah justru berubah menjadi  ajang  mengeruk keuntungan.

“ Sangat kita sesalkan ajang LF 2017 justru kurang merepresentasikan hasil pembangunan dan budaya lokal namun aroma bisnisnya yang lebih menonjol.Kami dari Komunitas Minat Baca tidak melihat adanya upaya dari pihak ketiga selaku EO LF yang berusaha mengangkat atau menggelar  event yang lebih mendidik  khususnya dalam dunia pendidikan dan minat baca di Provinsi Lampung,”kata Gunawan.

Pelaksanaan LF 2017 kali ini kata Gunawan, sangat kontradiktif dengan semangat Gubernur Lampung, M.Ridho Ficardo yang tengah gencarnya melakukan  peningkatan mutu pendidikan melalui gerakan Lampung Membaca serta upaya meningkatkan pariwisata Lampung.

“ Kita sama-sama ketahui saat ini Gubernur sedang berupaya bagaiamana meningkatkan mutu pendidikan, ya salah satunya melalui  Gerakan Lampung Membaca yang merupakan investasi kita dalam meningkatkan pengetahuan dan kualitas pendidikan.Seharusnya LF 2017 menjadi Aji Mumpung untuk lebih mengeksplorasi hasil pembangunan dan memberikan porsi yang lebih terhadap budaya lokal guna mengenalkan kepada masyarakat luar bagaiaman budaya dan tradisi di Bumi Lampung ini,”urainya.

Dia menambahkan, adanya lomba Reog dan Kuda Lumping justru menyakiti perasaan penggiat dan masyarakat Lampung yang sejatinya diberikan kesempatan yang lebih besar untuk menyajikan budaya dan tradisi Tanah Lado daripada menjual budaya luar hanya untuk kepentingan bisnis.

“ Saya Asli Jawa, tapi secara pribadi saya tidak setuju adanya lomba yang berasal dari budaya  luar Lampung yang lebih ditonjolkan Panitia, ini kan menyakiti perasaan saudara-saudara kita khususnya penggiat budaya Lampung. Jakarta Fair saja masih menghormati warga Betawi dengan lebih menonjolkan Lenong dan Ondel-ondel, ini sangat tidak mendukung upaya Pemprov Lampung dalam bidang pariwisata,”tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Pelaksanaan Lampung Fair 2017 yang lebih menonjolkan budaya dari luar Lampung menuai kritik sejumlah tokoh adat, kearifan budaya lokal yang semestinya diberi ruang lebih justru terpinggirkan dengan Reog Ponorogo dan Kuda Lumping.

Alhasil, pelaksanaan Lampung Fair justru kontradiktif dengan Semangat Lampung Treasure Of Sumatera, dilombakannya Reog dan Kuda Lumping di ajang LF 2017 selain dari penggiatnya cukup banyak di Bumi Lada, panitia pun menuai keuntungan dengan memungut pendaftaran yang mencapai Rp 500.000 untuk tiap peserta.

“ Semestinya panitia bersikap adil, paling tidak budaya yang dijadikan ajang lomba merepresentasikan beberapa budaya di Lampung, baik itu budaya lokal maupun budaya dari luar Lampung,”kata  penggiat budaya Lampung, Suttan Permato Alam, Rabu (13/12) lalu.

Dia mengatakan, tak ada yang salah dengan lomba Reog dan Kuda Lumping kjarena itu juga merupakan warisan nenek moyang yang haus dilestarikan, kendati demikian panitia pun tidak mengeyampingkan kearifan lokal yang juga punya potensi yang sama untuk di lombakan.

“ Kita tidak anti budaya dari luar Lampung, reog ataupun Kuda Lumping juga milik saudara kita dari pulau jawa dan harus kita hormati, namun akan lebih baik jika budaya lokal juga diberikan kesempatan yang sama,”tegasnya.

 

Terpisah, Humas LF 2017 Jihad Akbar saat dikonfirmasi melaui sambungan telepon mengakui jika Reog dan Kuda Lumping menjadi pilihan panitia untuk di lombakan di ajang tersebut, namun sebelum diputuskan menggelar kontes itu, pihaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung.

“ Bukan kita tidak menghormati budaya Lampung, karena di ajang Lampung Fair ini ada juga Festival Lampung Kemilau yang khusus menampilkan budaya lokal, meskipun bukan masuk kategori lomba, karena kami sebelumnya melakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata terkait loma reog dan Kuda Lumping itu, apalagi kan di Lampung, penggiat Reog dan Kuda Lumping sangat banyak,”jelasnya.

Diketahui, pelaksanaan LF 2017 terdapat sejumah kegiatan baik festival maupun lomba, akan tetapi Grand Modern selaku Event Organizer cenderung memilih kontes Reog dan Kuda Lumping, karena kedua ajang itu dinilai panitia lebih banyak peminat dan kewajiban biaya Rp.500.000 untuk pendaftaran tidak akan menuai protes peserta lomba daripada menanggung resiko dengan menggelar lomba adat dan budaya lampung itu sendiri.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *