PAN Usung Arinal, Bachtiar Komit Dukung Petahana?

Bandar Lampung (PeNa)-Komitmen Wakil Gubenur Lampung, Bachtiar Basri yang tetap setia mendukung Petahana, M.Ridho Ficardo pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 mendatang mulai menuai pertanyaan publik.

Pasalnya,  Pasca drama politik yang dimainkan Partai Amanat Nasional (PAN)  muncul asumsi dan opini di khalayak yang jika kesetiaan mantan Bupati Tulang Bawang Barat itu akan goyah dengan melihat sikap DPP PAN yang lebih memilih berkoalisi dengan Golkar untuk mendukung Arinal Djunaidi meskipun drama politik tergusurnya Wakil Gubernur Lampung itu dinilai sebagian kalangan sebagai bentuk konsekuensi atas komitmennya tetap setia pada petahana namun tidak dapat dipungkiri jika Bachtiar tetap kader partai yang dituntut bersikap tegak lurus atas kebijakan DPP.

Akademisi Universitas Lampung, Dedy Hermawan berpendapat semestinya petinggi partai  tak terkecuali Bachtiar sejatinya memberikan teladan yang baik dalam berpolitik  dan menunjukkan sebagai politisi yang memiliki integritas. Kendati demikian komitmen Bachtiar untuk  tetap mendukung petahana tidak serta merta harus dihakimi publik sebagai pembangkangan atas kebijakan DPP PAN, karena sebagai kader, Bachtiar terbilang baru dan bukan hal yang aneh jika fungsionaris bahkan orang-orang yang direkrut menjadi kader partai tidak melalui jenjang yang cukup lama maka loyalitasnya terhadap partai tidak seberapa besar.

“ Sejatinya memang harus tegak lurus dengan kebijakan partai, namun disatu sisi idealnya orang-orang parti idealnya lahir menjadi kader dan petinggi mpartai melalui mekanisme yang selektif bahkan dari jenjang terrendah maka akan teruji loyalitasnya terhadap partai,”jelas Dedy, Jum’at (13/10).

Fenomena Bachtiar,kata Dedy,merupakan salah satu contoh dari implikasi rekrutmen kader  Temu Dijalan yang kurang mampu memahami ideologi partai dan akhirnya kader karbitan yang memasuki partai itu justru memanfaatkan lembaga hanya sebagai kendaraan politik, sehingga wajar muncul prilaku kader instan yang kerapkali melawan kebijakan partai.

“Itulah dampak dari rekrutmen kader temu dijalan, contohnya pensiunan PNS atau purnawirawan TNI yang direkrut menjadi kader partai sehingga wajar jika kader karbitan itu terkadang prilakunya sangat kontradiktif dengan kebijakan partai, bahkan ada kader yang justru hanya memanfaatkan partai sebagai kendaraan politik semata dan inilah konsekuensi jika Petinggi partai hanya melihat potensi finansial seorang kader instan tanpa melihat sampai sejauh mana loyalitasnya terhadap kebijakan partai itu sendiri.Persoalan Bachtiar itu pun salah satu dari fenomena rekrutmen kader eksternal, biasanya ada kader karbitan yang mendadak menduduki posisi strategis atau didapuk menjadi Ketua DPW atau DPC  melalui pola pragmatis transaksional  dan berorientasi kepentingan pribadi,”urainya.

Terpisah, Juru Bicara Bachtiar Basri, Abu Hasan ketika dikonfirmasi membenarkan jika Bachtiar Basri tetap memegang komitmen mendukung petahana.Namun Abu Hasan enggan berkomentar saat disinggung jika sikap Wagub itu bertolak belakang dengan koalisi yang dibangun antara Partai PAN dan Partai Golkar.

“ Sampai sejauh ini yang kami ketahui, beliau (Bachtiar,red) tetap pada memegang teguh komitmen nya untuk tetap mendukung petahana, persoalan sikapnya  tidak sesuai dengan kebijakan PAN, kami tidak mau berkomentar lebih jauh karena sudah masuk ranah partai, selaku relawan kami tetap mendukung sikap beliau untuk setia pada petahana,”singkatnya.(BG)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *