Erupsi Anak Krakatau Paksa 30 Jamaah Umrah Reschedule

JOGJA (PeNa) -Kabar mengejutkan datang dari perjalanan umrah 30 jamaah asal Jogja setelah erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan mereka.

‎Puluhan jamaah yang seharusnya berangkat Senin (7/9/2026), akhirnya harus menelan kenyataan pahit karena jadwal penerbangan mengalami gangguan.

‎“Iya sudah pasti, akan kita reschedule. Kita reschedule airline dan hotelnya,” kata Agus Muhammad, pelaku usaha biro haji dan umrah di Yogyakarta.

‎Agus mengungkapkan terdapat 30 jamaah yang sedianya melakukan perjalanan pada Senin, namun keberangkatan harus ditunda akibat kondisi penerbangan.

‎“Hari ini ada 30 jamaah yang terbang, kita reschedule airline dan hotelnya ke bulan berikutnya,” ujarnya.

‎Tak hanya tiket pesawat, perubahan jadwal juga membuat pihak biro harus kembali mengatur akomodasi hotel yang sebelumnya sudah dipersiapkan.

‎“Hari ini kita fix-kan tanggal barunya,” kata Agus, memastikan pihaknya segera menentukan jadwal baru bagi seluruh jamaah terdampak.

‎Keputusan reschedule dilakukan setelah pihak biro mempertimbangkan perkembangan erupsi serta kondisi penerbangan yang belum sepenuhnya memungkinkan untuk perjalanan.

‎“Kita akan menetapkan kembali jadwal fix pemberangkatannya sambil melihat perkembangan situasi dan kondisinya,” tegas Agus.

‎Erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat sejak Jumat malam, 4 September 2026, dengan semburan material pijar yang terlihat seperti lava fountain.

‎Erupsi juga disertai lontaran batu pijar dan abu vulkanik, dengan karakter aktivitas yang disebut menyerupai tipe Strombolian.

‎Abu vulkanik kemudian terbawa angin dan menyebar luas. BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu yang mencakup sejumlah wilayah.

‎Wilayah terdampak sebaran abu mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu berdasarkan pemantauan BMKG pada Minggu, 6 September.

‎Yang membuat situasi semakin serius, sebaran abu dilaporkan mencapai sekitar 20.000 kaki ke timur dan 50.000 kaki menuju barat.

‎Kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan karena abu vulkanik berpotensi mengganggu pengoperasian pesawat yang melintas.

‎BMKG juga menerbitkan sejumlah peringatan cuaca penerbangan atau SIGMET. Sejumlah bandara kemudian menghentikan sementara operasional demi keselamatan.

‎Dampaknya pun tak main-main. Lebih dari 1.500 penerbangan di delapan bandara dilaporkan terdampak pada Minggu, 6 September 2026.

‎Sekitar 170.000 penumpang ikut terkena imbas gangguan penerbangan, termasuk para calon jamaah yang telah menyiapkan perjalanan jauh sebelumnya.

‎Bagi 30 jamaah umrah asal Jogja, perjalanan ibadah kini harus menunggu kepastian jadwal baru setelah situasi penerbangan kembali memungkinkan.

‎“Kita akan reschedule airline dan hotelnya ke bulan berikutnya,” ujar Agus, sembari memastikan perkembangan kondisi terus dipantau.

‎Kini, pihak biro masih memantau situasi penerbangan dan erupsi Gunung Anak Krakatau sebelum menetapkan tanggal keberangkatan baru bagi 30 jamaah. WAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *