LAMPUNG (PeNa) — Kekalahan telak dalam Pilgub Lampung 2024 menjadi alarm keras bagi PDI Perjuangan. Di tengah statusnya sebagai salah satu pemilik kursi legislatif terbesar di Provinsi Lampung dengan 114 kursi dari DPR RI hingga DPRD kabupaten/kota, partai berlambang banteng justru gagal mengonversi kekuatan struktur menjadi kemenangan elektoral. Menjelang Pilgub 2031, pertanyaan besar mulai mengemuka: apakah PDIP masih menjadi kekuatan utama politik Lampung, atau justru sedang memasuki fase kemunduran yang perlahan namun nyata?
Hasil Pemilu 2024 sebenarnya menunjukkan bahwa PDIP masih memiliki akar organisasi yang kuat di Lampung. Berdasarkan rekapitulasi hasil pemilu, partai ini berhasil mengamankan sekitar 114 kursi legislatif yang terdiri dari kursi DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Secara struktur, angka tersebut menempatkan PDIP sebagai salah satu kekuatan politik terbesar di Sai Bumi Ruwa Jurai.
Namun peta politik berubah drastis ketika memasuki kontestasi Pilgub Lampung 2024.
Pasangan calon yang didukung PDIP, yakni pasangan Arinal Djunaidi-Sutono, mengalami kekalahan yang bukan hanya signifikan, tetapi juga mencerminkan kegagalan mesin politik dalam mengonsolidasikan suara pemilih. Berdasarkan hasil rekapitulasi resmi KPU Lampung, pasangan Rahmat Mirzani Djausal – Jihan Nurlela memperoleh 3.300.681 suara, sementara pasangan Arinal Djunaidi-Sutono hanya meraih 691.076 suara. Selisih keduanya mencapai lebih dari 2,6 juta suara.
Data Perbandingan Kekuatan Politik PDIP Lampung
| Indikator | Hasil |
| Total Kursi Legislatif Pemilu 2024 | ±114 Kursi |
| Kursi DPRD Provinsi Lampung | 13 Kursi |
| Hasil Pilgub 2024 Arinal-Sutono | 691.076 suara |
| Hasil Pilgub 2024 Mirza-Jihan | 3.300.681 suara |
| Selisih Suara | ±2,6 juta suara |
Data tersebut memperlihatkan sebuah ironi politik. Di satu sisi PDIP memiliki struktur partai yang masih besar. Namun di sisi lain, kekuatan itu tidak mampu diterjemahkan menjadi dukungan elektoral dalam pemilihan gubernur.
Bagi sebagian pengamat politik, kekalahan tersebut menjadi indikator bahwa pemilih Lampung mulai bergerak meninggalkan pola politik berbasis partai menuju politik berbasis figur. Fenomena ini terlihat dari dominasi Mirza-Jihan yang tidak hanya menang, tetapi menyapu kemenangan di seluruh kabupaten dan kota di Lampung.
Persoalan lain yang kerap menjadi bahan diskusi di kalangan kader dan simpatisan PDIP adalah soal regenerasi kepemimpinan. Dalam beberapa tahun terakhir, wajah-wajah yang muncul dalam struktur partai dinilai masih didominasi figur lama yang memiliki kekuatan organisasi tetapi belum tentu memiliki daya tarik elektoral yang kuat di kalangan pemilih muda.
Di tingkat provinsi, sejumlah nama seperti Sudin, Sutono, maupun Winarti masih disebut sebagai figur yang memiliki basis politik. Namun tantangan terbesar bukan lagi sekadar menguasai struktur partai, melainkan membangun popularitas lintas segmen pemilih yang saat ini lebih dipengaruhi media digital, personal branding, dan kinerja figur.
Jika melihat tren politik pasca Pilgub 2024, maka ancaman terbesar bagi Mirza pada Pilgub 2031 justru bukan berasal dari tokoh-tokoh lama yang sudah mapan, melainkan dari kemungkinan lahirnya figur baru yang mampu menyatukan kekuatan tradisional PDIP dengan pendekatan politik modern.
Bagi PDIP Lampung, lima tahun ke depan tampaknya akan menjadi periode penentuan. Partai ini masih memiliki modal berupa jaringan organisasi hingga tingkat desa, basis massa historis di sejumlah daerah, serta pengalaman panjang dalam mengelola kekuasaan. Namun modal itu saja tidak lagi cukup.
Pilgub 2024 telah memberikan pelajaran penting bahwa besarnya mesin partai tidak otomatis berbanding lurus dengan kemenangan. Di tengah perubahan perilaku pemilih, partai politik dituntut tidak hanya menjaga struktur, tetapi juga melahirkan figur yang mampu menjawab harapan publik.
Menjelang 2031, pertarungan sesungguhnya bagi PDIP Lampung mungkin bukan melawan Rahmat Mirzani Djausal. Pertarungan terbesar justru berada di dalam tubuh partai itu sendiri: antara mempertahankan pola lama atau berani melakukan regenerasi untuk melahirkan pemimpin baru yang mampu mengembalikan kejayaan banteng merah di Lampung.Tim






