Gelombang Pasang Rendam Pemukiman Warga Pesisir Pesawaran

PESAWARAN-(PeNa), Gelombang pasang air laut yang kerap terjadi lima tahun sekali (banjir rob) merendam persawahan dan pemukiman milik  warga di Pesisir Kabupaten Pesawaran, Senin (25/05/2020).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesawaran Mustari mengatakan bahwa sedikitnya ada empat kecamatan yang terdampak banjir air rob kali ini.
“Untuk di daerah pesisir pantai itu ada empat kecamatan, Kecamatan Teluk Pandan, Padang Cermin, Marga Punduh dan Punduh Pidada, tapi tidak semua desa terkena banjir rob, hanya desa desa yang berada di perbatasan dengan pantai saja,” kata dia.
Menurutnya, sebelum banjir rob merendam persawahan dan pemukiman, pihaknya telah memberikan himbauan baik secara tertulis maupun lisan kepada aparatur setempat.
“Jauh sebelum kejadian juga, saya sudah memberikan warning baik secara tertulis maupun lisan, kepada camat agar memberitahukan kepada kepala desa agar dapat mengevakuasi barang barang elektronik maupun kendaraan bermotor nya, karena banjir rob ini kan menjadi permasalah rutin setiap tahunnya,” ujar dia.
Pasangnya air laut yang merendam persawahan dan pemukiman tersebut diketahui warga terjadi mulai pukul 07.30 WIB, Senin (25/05/2020).
Sedangkan, menurut Nano salah satu warga Desa Hanura Kecamatan Teluk Pandan, mengatakan, peristiwa banjir rob ini terjadi pada pukul 07.30 wib
“Air masuk rumah-rumah warga setinggi setengah meter sekitar pukul 07.30WIB dan untuk di Desa Hurun pemukiman yang terdampak gelombang air laut terjadi di RT Serbajaya Hurun, ” kata Nano warga sekitar kejadian.
Sedangkan untuk di Desa Hanura gelombang pasang merendam pemukiman warga yang berada di perumahan karyawan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL)
“Saya ngobrol sama orang BBPBL mereka ada alat ukur katanya gelombang pasang ini berkemungkinan naik turun selama tujuh hari,” terang dia.
Sementara itu RT Serbajaya Desa Hurun, Ronny mengatakan, gelombang pasang yang merendam RT nya hanya menimpa delapan rumah warga.
“Peristiwa ini terjadi lima tahun sekali pasti, biasanya lebih parah dari ini, ya gimana karena memang dekat dengan laut,” kata dia.
Sampai sekarang petugas masih terus menginventarisir kerugian material, namun untuk korban jiwa atau lainnya tidak ada. Masyarakat sepertinya sudah menganggap kejadian tersebut merupakan hal yang lumrah dipesisir laut.
Oleh: sapto firmansis

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *