BANDARLAMPUNG – (PeNa), Kain tapis khas Lampung bersiap mencuri perhatian di panggung nasional lewat ajang “Persit Bisa 2” yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 7–9 Mei 2026. Lewat booth nomor 75, UMKM Asri Tapis membawa koleksi unggulan yang memadukan warisan tradisi dengan sentuhan modern.
Keikutsertaan ini bukan sekadar partisipasi pameran. Lebih dari itu, menjadi penanda bagaimana pelaku UMKM lokal terus bergerak menjaga eksistensi sulam benang emas di tengah gempuran tren global.
Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah XXI/RI, Asti Kristomei, menegaskan pameran ini adalah ruang strategis untuk memperluas jangkauan karya anggota. “Ini bukan hanya soal tampil, tapi bagaimana karya anggota Persit bisa menembus pasar yang lebih luas,” ujar Asti, Senin (4/5/2026).
Menurut Asti, Persit kini tak lagi sebatas organisasi pendamping prajurit. Perannya berkembang menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis keluarga. “Kami ingin anggota Persit mandiri dan produktif, salah satunya lewat UMKM seperti Asri Tapis,” kata dia.
Dari Tradisi ke Gaya Hidup Modern
Sejarah panjang Persit yang lahir pada 1946 menjadi fondasi kuat dalam mendorong pemberdayaan. Dari aktivitas sederhana di lingkungan asrama, kini organisasi ini aktif mengangkat potensi lokal ke level nasional.
Kolaborasi dengan Asri Tapis menjadi contoh nyata. Kain tapis tak hanya hadir sebagai busana adat, tetapi juga dikreasikan dalam bentuk tas hingga clutch yang relevan dengan gaya masa kini.
Asti menilai inovasi menjadi kunci agar tapis tetap diminati generasi muda. “Kami mendorong inovasi tanpa meninggalkan nilai tradisi, agar tapis tetap hidup dan berkembang,” ungkapnya.
Setiap produk yang dipamerkan menyimpan cerita panjang. Proses pembuatannya masih mengandalkan ketelitian tangan, dengan ribuan tusukan jarum yang dikerjakan secara manual oleh para pengrajin.
Lebih jauh, tapis juga diposisikan sebagai medium diplomasi budaya. “Tapis bukan sekadar kain, tapi identitas Lampung yang bisa kita perkenalkan ke tingkat nasional bahkan internasional,” kata Asti.
Pameran selama tiga hari ini juga diharapkan menjadi ruang edukasi publik. Pengunjung bisa mengenal filosofi motif, proses pembuatan, hingga cara merawat kain bernilai tinggi tersebut.
Di balik setiap helai tapis, tersimpan upaya menjaga warisan agar tetap relevan. Dari tangan-tangan terampil, identitas budaya terus dirajut—tak sekadar bertahan, tetapi juga bersinar di panggung yang lebih luas.






