Batik Kaganga Bengkulu Tembus Nasional, Dorong Perempuan Lebih Mandiri

Bengkulu – (PeNa), Perjalanan Batik ChaCha Mentari menembus panggung nasional tak lepas dari peran Ibu Dewa, seorang Persit Kodam XXI/Radin Inten, sekaligus ASN di Kabupaten Rejang Lebong. Ia menggerakkan perempuan di sekitarnya untuk bangkit secara ekonomi lewat potensi budaya lokal yang selama ini belum tergarap maksimal.

Berangkat dari keprihatinan melihat banyak ibu rumah tangga memiliki waktu dan keterampilan, namun belum memiliki ruang untuk berkembang, Ibu Dewa membangun wadah produktif berbasis batik khas daerah. Ia memilih aksara Kaganga sebagai identitas utama, simbol warisan leluhur masyarakat Rejang yang sarat nilai sejarah.

Bacaan Lainnya

Langkah tersebut mendapat dukungan dari Persit Kartika Chandra Kirana di bawah naungan Kodam XXI/Radin Inten melalui program Persit Bisa. Program ini menjadi ruang penguatan UMKM bagi anggota Persit agar lebih mandiri dan produktif.

Tahun ini, Batik ChaCha Mentari dipercaya mewakili Cabang XX Dim 0409 Koorcab Rem 041 PD XXI/Radin Inten dalam ajang Persit Bisa di Balai Kartini, Jakarta. Keikutsertaan ini menjadi bukti bahwa produk berbasis budaya lokal mampu bersaing di tingkat nasional.

Ketua Cabang XX Dim 0409, Ny. Ratih Agung, menyampaikan kebanggaannya atas capaian tersebut. “Kami sangat bangga dan mengapresiasi terpilihnya UMKM Batik ChaCha Mentari dalam program Persit Bisa,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan itu lahir dari proses panjang yang penuh konsistensi. “Ini merupakan bukti bahwa kerja keras dan kreativitas anggota Persit dalam mengembangkan usaha patut diapresiasi,” katanya.

Menurutnya, dukungan dari Kodam XXI/Radin Inten menjadi penguat bagi anggota untuk terus berkembang. “Semangat anggota dalam mengembangkan usaha seperti ini harus terus dijaga dan didorong,” lanjutnya.

Batik Lokal, Dampak Nyata bagi Ekonomi Warga

Di balik keindahan motifnya, Batik ChaCha Mentari membawa dampak langsung bagi masyarakat. Produksi yang terus meningkat membuka peluang kerja bagi ibu rumah tangga dan generasi muda di Rejang Lebong.

Ibu Dewa menegaskan, pemberdayaan ini bukan sekadar aktivitas ekonomi. “Perempuan memiliki potensi besar, hanya perlu ruang dan kepercayaan untuk berkembang,” katanya.

Ia ingin perempuan tidak hanya menjadi pendukung, tetapi pelaku utama dalam ekonomi keluarga. “Kami ingin ibu-ibu bisa mandiri dan bangga dengan karya mereka sendiri,” ujarnya.

Baginya, batik bukan sekadar produk, melainkan identitas. “Batik ini adalah warisan budaya yang harus dijaga sekaligus dikembangkan,” tegasnya.

Kini, Batik ChaCha Mentari tak hanya dikenal sebagai kerajinan khas Bengkulu, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi perempuan berbasis budaya lokal. Dukungan Persit dan Kodam XXI/Radin Inten memperkuat langkah itu, membawa batik Kaganga melangkah lebih jauh ke tingkat nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *