MESUJI – (PeNa), Proyek irigasi gantung di Desa Bandar Anom, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji, menuai sorotan warga. Infrastruktur senilai Rp97,8 miliar itu dinilai belum memberikan manfaat signifikan bagi pertanian, meski telah dibangun beberapa tahun lalu.
Sorotan terhadap proyek ini kian meluas setelah kondisi bangunan irigasi tersebut viral di media sosial. Sejumlah foto dan video yang beredar memperlihatkan adanya lubang pada badan saluran serta korosi pada besi penyangga, memicu beragam reaksi dari warganet.
Sejumlah bagian bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari lubang pada badan saluran hingga korosi pada besi penyangga. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait kualitas konstruksi proyek.
Namun, persoalan tidak hanya pada kerusakan fisik. Warga menyebut fungsi utama irigasi sebagai penunjang pertanian belum dirasakan secara optimal.
“Airnya belum maksimal mengalir ke sawah. Jadi belum terlalu membantu petani,” ujar salah satu warga di sekitar lokasi.
Proyek ini berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka terkait penyebab kerusakan maupun langkah konkret perbaikan yang akan dilakukan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan lebih luas terkait efektivitas pembangunan infrastruktur, khususnya yang menggunakan anggaran besar. Selain kualitas bangunan, aspek perencanaan dan pengawasan juga menjadi sorotan publik.
Pengamat infrastruktur menilai, proyek irigasi seharusnya tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga harus langsung memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama petani sebagai pengguna utama.(*)






