JOGJA – Sebanyak 17.865 titik api mengepung habitat Orangutan Kalimantan, memicu desakan Geopix agar pemerintah segera menetapkan rencana darurat penyelamatan populasi dan hutan tersisa.
Geopix mencatat 22.744 hotspot sepanjang 1 Juni hingga 28 Agustus 2026 di Kalimantan, dengan 17.865 titik api berada dalam habitat orangutan.
Angka tersebut setara sekitar 78,5 persen dari seluruh titik api, menunjukkan karhutla kini langsung bersinggungan dengan wilayah penting bagi kehidupan orangutan Kalimantan.
Data resmi SIPONGI Kementerian Kehutanan menjadi dasar analisis, kemudian ditumpangsusunkan dengan peta habitat tiga subspesies utama Orangutan Kalimantan yang terdampak kebakaran yang serius.
Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati menyebut kebakaran tersebut sebagai ancaman serius bagi satwa ikonik sekaligus masyarakat yang terdampak asap berkepanjangan di Kalimantan.
“Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia tetapi juga satwa liar di dalamnya,” tutur Annisa Rahmawati saat jumpa pers.
Pada Agustus, hotspot melonjak ekstrem hingga mencapai 17.375 titik di habitat orangutan, dengan sebaran terlihat jauh lebih padat dibandingkan Juni dan Juli.
Geopix juga menghitung sekitar 25.812.699 hektare wilayah terbakar, atau 60,2 persen dari total habitat orangutan seluas 42.831.834 hektare.
Artinya, luas terbakar tersebut bukan sekadar angka kecil, melainkan lebih dari separuh bentang habitat yang menjadi ruang hidup Orangutan Kalimantan yang tersisa.
“Yang paling penting saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan habitat Orangutan sebanyak mungkin yang tersisa,” ujar Annisa kepada wartawan langsung di Yogyakarta.
Menurut Geopix, kebakaran dapat menghilangkan tutupan hutan, mengganggu sumber pakan, merusak pohon sarang, serta memutus konektivitas antar habitat orangutan secara signifikan di habitat alami tersebut.
Analisis kerentanan menempatkan Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit dalam Kuadran II sebagai wilayah kritis menghadapi hotspot sangat tinggi sehingga memerlukan respons darurat segera.
Ketiga kawasan tersebut memiliki populasi relatif kecil, namun tekanan kebakaran tinggi sehingga Geopix mendorong respons darurat dan perlindungan lebih cepat serta terukur.
Sementara Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau berada pada Kuadran III, sehingga prioritas penanganannya diarahkan pada pemantauan intensif serta restorasi habitat secara bertahap optimal lebih.
Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung masuk Kuadran IV, menjadi kantong populasi penting yang harus diprioritaskan dalam pencegahan kebakaran dan perlindungan habitat jangka panjang kini.
Annisa menilai penanganan karhutla tidak boleh menunggu api membesar, tetapi harus memutus mata rantai kebakaran melalui penegakan hukum yang konsisten dan tegas.
“Harus ada penegakan hukum yang tegas tanpa kompromi terhadap siapapun, korporasi manapun yang terlibat maupun lalai,” tegas Annisa kepada publik secara menyeluruh keras.
Geopix mendesak pemerintah melakukan survei ulang habitat dan populasi setelah kebakaran, termasuk memeriksa kerusakan, pakan, sarang, serta perubahan ekosistem secara menyeluruh dan akurat.
“Data dasar konservasi sebelumnya berpotensi menjadi tidak relevan lagi,” kata Annisa, meminta hasil survei menjadi dasar untuk reset PHVA Orangutan Kalimantan segera kembali.
Geopix meminta pemerintah menyusun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan, mencakup penyelamatan, koridor, pencegahan, hukum, restorasi, serta pemantauan berkelanjutan efektif.
*Catatan angka penting: 25.812.699 hektare adalah luas wilayah terbakar yang disebut dalam analisis Geopix, setara 60,2 persen dari total habitat Orangutan Kalimantan yang dianalisis seluas 42.831.834 hektare. WAN
17.865 Titik Api Kepung Habitat Orangutan, Pemerintah Dituntut Bergerak






