SLEMAN – Hasto Kristiyanto mengungkap ancaman populisme otoriter yang dinilai semakin menggerus demokrasi, sekaligus menawarkan lima strategi menghadapi kemunduran demokrasi secara serius.
Pernyataan itu disampaikan Hasto dalam CALD Conference on Democratic Resilience di Karaton Ballroom Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).
Forum internasional tersebut mempertemukan puluhan delegasi berbagai negara untuk membahas ketahanan demokrasi menghadapi populisme otoriter dan pelemahan institusi politik yang semakin mengkhawatirkan.
Hasto mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam Megawati Soekarnoputri, kemudian mengajak peserta meneriakkan “Merdeka!” sebelum mengulas ancaman demokrasi yang tengah berkembang luas.
Menurut Hasto, populisme otoriter kerap memanfaatkan sentimen kerakyatan untuk mendapatkan dukungan, tetapi kemudian berpotensi melemahkan institusi demokrasi setelah kekuasaan berhasil diraih.
“Populisme otoriter dapat menekan kebebasan pers dan menjauhkan penegakan hukum dari rasa keadilan,” kata Hasto dalam forum tersebut kepada para delegasi.
Hasto kemudian menyoroti kondisi demokrasi Indonesia, terutama dinamika Pemilu 2024 yang disebutnya sebagai momentum penting dalam perjalanan kemunduran demokrasi nasional saat ini.
“Kedaulatan rakyat adalah inti dari jiwa PDI Perjuangan,” tegas Hasto saat mengkritik perkembangan politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir secara terbuka.
Menurut Hasto, Pemilu 2024 menjadi puncak kemenangan populisme otoriter yang dibangun bertahap, khususnya sejak periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo berlangsung.
“Norma-norma demokrasi dilanggar, masyarakat sipil diperlemah, dan demokrasi mengalami kemunduran,” tegas Hasto di hadapan peserta konferensi internasional tersebut secara langsung.
Hasto mengutip Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, yang menyebut partai politik memiliki peran penting sebagai penjaga gerbang demokrasi dari ancaman kekuasaan berlebihan.
Jika partai gagal menjalankan fungsi tersebut, kata Hasto, kekuasaan berpotensi semakin terkonsentrasi dan akhirnya tersandera kepentingan oligarki yang semakin kuat.
“Kita sedih dengan realitas ini, namun ini adalah kritik bagi kita semua untuk memastikan demokrasi bekerja,” ujar Hasto di Yogyakarta.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Hasto menawarkan lima agenda strategis yang menurutnya dapat memperkuat ketahanan demokrasi sekaligus memperbaiki pelembagaan partai politik nasional.
Agenda pertama menempatkan seluruh lapisan masyarakat sebagai kekuatan utama melalui partisipasi warga yang bebas, aman, dan terlindungi dalam kehidupan demokrasi sehari-hari.
“Lembaga negara harus bekerja secara netral dan akuntabel,” kata Hasto, sembari mengingatkan bahaya korupsi, disinformasi, serta personalisasi kekuasaan pada figur tertentu.
Agenda kedua menegaskan supremasi hukum sebagai benteng utama menghadapi penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, ketidakadilan, dan mahalnya biaya politik dalam kontestasi demokrasi.
“Supremasi hukum harus ditegakkan,” tegas Hasto, karena hukum yang kuat diperlukan untuk memastikan kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol publik yang efektif.
Agenda ketiga mendorong pelembagaan partai secara substansial melalui kaderisasi, politik berbasis kebijakan, integritas finansial, demokrasi internal, serta mekanisme suksesi kepemimpinan yang terukur.
Hasto menegaskan partai politik tidak boleh bergantung pada figur, sebab institusi yang kuat harus berakar pada ideologi dan mampu bertahan lintas generasi.
Agenda keempat mendorong masyarakat sipil memperkuat pemikiran kritis, kebebasan berpendapat, ruang publik sehat, serta solidaritas menghadapi tekanan politik yang melemahkan demokrasi.
Agenda kelima memperluas demokrasi hingga sektor ekonomi karena demokrasi politik tanpa keadilan ekonomi dinilai belum mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.
“Demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur politik dan pemilu,” tegas Hasto, menyoroti pentingnya tata kelola ekonomi yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.
Di akhir pidatonya, Hasto menampilkan Teori Pelembagaan Partai Pelopor sebagai gagasan menghadapi politik figur dan memperkuat organisasi partai secara sistemik untuk masa depan.
“Rakyat biasa dapat mengelola pemerintahannya sendiri, perbedaan diselesaikan tanpa kekerasan, dan keadilan berdiri tegak di atas kekuasaan,” pungkas Hasto penuh penegasan.
Hasto Bongkar Demokrasi Mundur, Populisme Otoriter Mengancam Kedaulatan Rakyat






