Jakarta – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, mengatakan pihaknya tidak akan melayangkan pertanyaan yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan atau SARA dalam debat capres-cawapres pada 17 Januari mendatang.
“Kami komitmen tidak melontarkan hal-hal yang berbau SARA. Dari sejak awal coba siapa yang suka bermain SARA, sudah pasti bukan kami,” kata Ace seusai menghadiri diskusi di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta, Selasa (8/1).
Selain itu, kata Ace, Jokowi-Ma’ruf tidak akan melontarkan pertanyaan yang menjatuhkan atau menyerang pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno secara personal, melainkan fokus pada pendalaman dan elaborasi visi dan misi lawan.
“Kalau menjatuhkan dalam konteks konsep, ya itu biasa, memang seharusnya kan begitu,” ujarnya.
Ace mengatakan pertanyaan tertutup yang akan diberikan Jokowi-Ma’ruf yakni seputar tema yang dibahas dalam debat perdana yakni soal hukum, hak asasi manusia (HAM), korupsi dan terorisme. Namun, dia enggan menyebutkan bocoran terkait pertanyaan-pertanyaan yang akan ditujukan kepada Prabowo-Sandi.
Ace hanya menyinggung soal istilah HAM yang sama sekali tidak ada dalam visi dan misi Prabowo-Sandi. Menurut Ace dapat dikatakan bahwa pasangan itu tidak menyinggung sama sekali soal HAM.
“Satu hal yang harus jadi catatan teman-teman sekalian, bahwa di dalam visi misi yang ada di Prabowo-Sandi, istilah HAM sama sekali tidak ada. Jadi artinya bahwa mereka tidak menyinggung sama sekali soal HAM,” jelas dia
Dalam debat capres-cawapres perdana, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengatur adanya sesi pertanyaan terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka merupakan daftar pertanyaan yang disusun panelis, yang kisi-kisinya diberikan terlebih dulu kepada kedua pasangan capres-cawapres sepekan sebelum debat, untuk nantinya ditanyakan secara acak.
Sedangkan pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang disiapkan dan dilontarkan masing-masing pasangan kepada pasangan lain. Pertanyaan ini bersifat rahasia karena hanya kedua pasangan yang mengetahuinya.
Lebih lanjut, Ace mengaku optimis Jokowi-Ma’ruf akan mudah menghadapi debat tersebut. Pasalnya, Jokowi sudah berpengalaman mengikuti debat, mulai dari ketika ikut pencalonan Wali Kota Solo, pencalonan Gubernur DKI Jakarta dan Pilpres 2014.
“Sementara Kiai Ma’ruf beliau adalah seorang kiai yang setiap saat di dalam tradisi pesantren debat itu sesuatu yang biasa. Misal pembahasan terkait isu dalam tradisi fiqih, Islam yang berdebat antara satu dengan yang lain. Jadi, kami tidak ada persiapan khusus. Bahwa nanti ada simulasi dan lain sebagainya, yang dilakukan Pak Jakowi-Ma’ruf itu sebagai bagian dalam proses sinkronisasi yang saya kira wajar saja,” terang dia.






