Jaringan Irigasi Terancam

BANDARLAMPUNG (PeNa) Ratusan pohon tua sepanjang jaringan irigasi Sekampung-Batanghari menjadi ancaman tersendiri untuk kelancaran suplay air pertanian. Pihak Dinas Pengairan Provinsi Lampung pun tidak dapat berbuat banyak soal itu. 

Kepala UPTD Wilayah II Dinas Pengairan Provinsi Lampung, Yeni Rianto mengakui, pohon-pohon besar sepanjang jaringan irigasi primer menjadi ancaman setiap memasuki musim penghujan dan angin seperti saat ini. “Pastilah (mengancam jaringan), karena hampir 70 persen, usia pohon tersebut diatas 25 tahun dan berada dibibir jaringan irigasi,” kata dia.

Pohon tua tersebut kini telah mencapai diameter minimal 30 centimeter dengan ketinggian 20 meter lebih. Beberapa diantaranya dalam kondisi kering dan mati. “Sudah tua itu, kondisiny juga sudah mengkhawatirkan. kalau saat ini kita belum bisa berbuat banyak ya sebatas kalau ada yang tumbang di jaringan primer baru bisa bergerak. Langkah antisipasi belum ada, hanya tinggal menunggu saja,”.

Ratusan pohon tua sepanjang jaringan irigasi Sekampung-Batanghari menjadi ancaman tersendiri untuk kelancaran suplay air pertanian. Foto : PESAGI

Dinas Pengairan sendiri, dijelaskan Yeni pernah bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai  Mesuji Sekampung (BBWSMS) untuk melakukakn langkah antisipasi. Dengan mengiventarisir jumlah batang pohon yang akan ditebang sebagai salah satu jalan menjaga kualitas jaringan. “Namun langkah kami terhenti ketika kejaksaan belum mengeluarkan rekomendasi. Karena biar bagaimanapun juga, pohon tersebut merupakan aset dan harus ada rekomendasi dari kejaksaan sebagai jaksa tata usaha negara. Sampai sekarang kami belum menerima keputusannya seperti apa, apakah akan dilanjut atau dihentikan,”.

Dalam pengajuan usulan lelang aset tersebut, pemerintah mencatat setidaknya ada 5 ribu batang pohon yang masuk dalam kategori membahayakan jaringan termasuk beberapa diantaranya berada disepanjang daerah aliran sungai. “DAS Way Bunut misalnya, itu ada banyak juga yang berdasarkan kalkulasi teknis dapat mempengaruhi jaringan. Kan ada beberapa aspek kenapa pohon itu masuk dalam kategori mempengaruhi irigasi dalam konteks yang negatif,” jelasnya.

Terpisah, salah satu penggiat irigasi Wahyu YL berharap pemerintah dapat secara tegas mengambil kebijakan untuk penataan kembali jaringan irigasi. “Minimal merevitalisasi tanaman yang berada disepanjang jaringan primer, sekunder atau terseier mengingat musim penghujan seperti ini pasti itu akan menjadi momok tersendiri bagi petani,” ujarnya. GUS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *