Sekolah Reyot, Semangat Belajar Tak Runtuh

Tanggamus – (PeNa), Pagi di Pedukuhan Batu Nyangka, Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, tak pernah benar-benar berbeda. Anak-anak tetap melangkah ke sekolah, meski bangunan yang mereka tuju jauh dari kata layak.

Dinding papan tampak lapuk dimakan usia. Atap seng berkarat dan berlubang di sana-sini. Saat hujan turun, air menetes bebas ke dalam kelas, membasahi lantai dan bangku. Namun, kegiatan belajar tetap berjalan seperti biasa.

Bacaan Lainnya

Di ruang sederhana itulah, harapan terus dirawat.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Satu Atap ini telah berdiri puluhan tahun. Banyak generasi lahir dari tempat ini, meski hingga kini bangunannya belum tersentuh pembangunan permanen.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Viktor Libradi, menyebut kondisi tersebut menjadi perhatian pihaknya.

“Ini akan kami jadikan evaluasi dan segera dikoordinasikan. Pemerintah belum bisa merenovasi karena status tanah sekolah belum berstatus hibah,” ujarnya saat ditemui, Kamis (30/4/2026).

Harapan di Tengah Keterbatasan

Di balik bangunan yang rapuh, ada keteguhan yang tak ikut runtuh. Apriana, seorang guru, telah 18 tahun mengabdikan diri mengajar di sekolah itu.

“Saya sudah 18 tahun mengajar di sekolah ini, belum ada bantuan yang datang. Kami berharap sekolah ini dapat dibangun permanen,” ujarnya.

Setiap hari, belasan siswa duduk di ruang kelas seadanya. Mereka belajar dalam kondisi serba terbatas, tetapi tetap memelihara mimpi yang sama—seperti anak-anak di tempat lain.

Kondisi ini pun mengundang perhatian berbagai pihak. Tokoh masyarakat Lampung, Very Fardinalsyah, datang bersama sejumlah influencer lokal untuk melihat langsung situasi di lapangan.

Selain meninjau bangunan, mereka juga membawa bantuan berupa susu, buku tulis, dan makanan ringan untuk para siswa.

Very menyatakan langkah konkret akan segera dilakukan.

“Pemerintah terkendala status hibah tanah. Karena itu, saya bersama beberapa rekan, termasuk influencer lokal dan warga setempat, bersepakat untuk membangun sekolah ini secara permanen,” ujarnya.

Ia juga telah meminta tokoh setempat mendata kebutuhan material. Setelah proses inventarisasi selesai, bantuan akan mulai disalurkan sebagai tahap awal pembangunan.

Di tengah keterbatasan fisik, sekolah ini tetap berdiri. Bukan karena bangunannya kokoh, melainkan karena tekad guru dan semangat murid yang terus menyala.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *