SP3 P3A Tak Maksimal, P3TGAI Jadi Andalan

BANDARLAMPUNG (PeNa) – Rencana pemerintah untuk peningkatan tata guna air irigasi sebagai salah satu penunjang kebutuhan air dan memaksimalkan hasil pertanian tidak selamanya diimplementasikan secara positif.

Kementrian PUPR yang mencanangkan peningkatan jaringan irigasi sejak 1983 yang berlabel Pengembangan Tata Guna Air (PTGA) tersebut terus berkembang. Diakhir tahun 2020, dengan memaksimalkan anggaran, kementerian secara berangsur-angsur merubah spesifikasi yang awalnya dengan batu belah berganti dengan cor blok.

 

Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) yang dibiayai oleh APBN. Nilainya sama dengan SP3 P3A tapi kualitas dan kuantitas yang berbeda. foto Ist

Berbeda dengan pelaksanaan program SP3 P3A yang merupakan program pokok pikiran dari anggota DPRD Kabupaten Lampung Timur, dengan anggaran yang sama yakni sebesar Rp195 juta per titik, spesifikasi pekerjaan yang ada tidak dapat maksimal.

Direktur Pemerhati Sungai dan Jaringan Irigasi (PESAGI), Agus Hermanto menilai, perbandingan spesifikasi pekerjaan dapat menjadi tolok ukur pola fikir pejabat yang menjadi aktor inisiasi program tersebut. Jika program P3GAI yang merupakan pengembangan dari program PTGA mendapat pagu Rp195 juta, untuk rehap atau pembangunan irigasi mampu dimaksimalkan mencapai 1.100-1.300 meter dengan pencangnan scor blok ketebalan 10 centimeter.

“Namun pada program SP3 P3A yang diinisiasi kabupaten hanya mampu membangun irigasi sepanjang 300-400 meter itu pun dengan rancang batu belah. Disini dapat dikomparasi kualitas pekerjaan, mutu dan yang terpenting pembelanjaan anggaran kegiatan,” katanya di Bandar Lamung,  Rabu (03/11).

 

Surat Perintah Pemberian Pekerjaan (SP3) P3A, kegiatan yang bersumber dari APBD terkesan tidak maksimal. foto Ist

Lebih lanjut, dalam grand design setiap penggunaan anggaran, kedua program baik P3TGAI dan SP3 P3A merupakan program padat karya. “Ya keduanya program padat karya, anggarannya pun sama dengan sumber yang berbeda. P3TGAI sumber APBN dengan leading sektor Balai Besar dan langsung kepada Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) sebagai pelaksana sekaligus user. sementara SP3 P3A bersumber dari APBD juga langsung besinggungan dengan P3A sebagai pelaksana,” imbuhnya.

Semangat yang dibangun, kata Agus, jangan sampai menciderai rencana besar pemerintah pusat untuk meningkatkan hasil pertanian. “Sumbernya kan sama-sama uang rakyat. Jangan kemudian anggaran program SP3 P3A menjadi banyak yang tak tepat sasaran dan tidak dapat dimaksimalkan,” katanya.

Diakui salah satu Ketua P3A Desa Jadimulyo Kecamatan Sekampung, Yl, menjelaskan, SP3 P3A dan P3TGAI selama ini menjadi tumpuan petani untuk dapat memperoleh air. Namun masih banyak jaringan irigasi primer dalam kondisi yang memprihatinkan. “Dari permasalahan sedimentasi, abrasi lereng jaringan dan rumput liar terkadang mejadi permasalahan tesendiri sedangkan pemerintah menargetkan MT 3. Terkadang kondisi-kondisi jaringan tersebut juga manjadi kendala bagi petani,” kata dia. red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *