LAMPUNG TIMUR – (PeNa), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung memastikan jejak satwa di perkebunan nanas PT Great Giant Pineapple, Lampung Timur, merupakan tapak Harimau Sumatra.
Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, menjelaskan kepastian itu diperoleh setelah tim melakukan rapid analysis menindaklanjuti laporan petugas keamanan perusahaan yang menemukan jejak mencurigakan di area kebun.
Tim menganalisis dokumentasi foto jejak dengan pembanding ukuran bungkus rokok sebagai standar skala. Pendekatan tersebut membantu memastikan ukuran dan proporsi tapak yang ditemukan di lapangan.
“Dari hasil analisis morfologi jejak, dapat disimpulkan bahwa jejak tersebut paling konsisten mengarah pada Harimau Sumatra,” ujar Itno saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
Secara morfologis, jejak memperlihatkan empat jari telapak kaki yang tegas tanpa bekas kuku, ciri khas keluarga kucing besar atau Felidae. Bantalan tengah terlihat besar dengan tiga lekukan di bagian belakang.
Itno menambahkan, lokasi temuan turut menguatkan dugaan tersebut. Berdasarkan data koordinat, titik jejak berada sekitar 350 meter dari kawasan Taman Nasional Way Kambas yang menjadi habitat satwa dilindungi.
Wilayah itu dikenal sebagai habitat penting berbagai satwa, termasuk harimau Sumatra, serta menjadi koridor jelajah alami.
Kemunculan jejak di kebun yang berbatasan langsung dinilai masih dalam pola pergerakan wajar.
“Pergerakan harimau dewasa bisa saja terjadi untuk mencari mangsa, memperluas teritori, atau sekadar melintas. Ini merupakan perilaku alami satwa liar,” katanya.
Mengacu pada analisis risiko konflik berdasarkan Permenhut Nomor P.48 Tahun 2008, BKSDA menilai potensi konflik manusia dan satwa dalam kasus ini masih tergolong rendah karena baru sebatas temuan jejak.
Belum ada laporan kerugian ekonomi maupun korban jiwa akibat kemunculan satwa tersebut. Meski begitu, BKSDA tetap meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah mitigasi.
“Hasil analisis ini bersifat sementara. Diperlukan identifikasi lanjutan di lapangan, serta koordinasi dengan para pihak untuk mencegah potensi konflik di kemudian hari,” ujar Itno.






