BANDARLAMPUNG – (PeNa), Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di wilayah Lampung dan Bengkulu terus dikebut oleh Kodam XXI/Radin Inten. Dari total 28 jembatan yang dibangun, dua di antaranya di Lampung kini nyaris rampung 100 persen dan sudah mulai dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas harian.
Namun di balik percepatan itu, proyek Jembatan Garuda di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, masih menghadapi tantangan berat di lapangan. Kondisi tanah berlumpur membuat proses pemasangan pancang harus menggunakan teknik khusus agar konstruksi tetap stabil dan aman.
Panglima Kodam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan pembangunan jembatan di wilayahnya terus dipantau secara berkala setiap pekan.
“Jembatan Garuda ini tiap Korem ada 15 jembatan yang harus diselesaikan, baik jembatan perintis maupun Aramco. Di Lampung sendiri sudah ada dua yang hampir 100 persen selesai,” kata Kristomei usai mengikuti peresmian serentak 1.061 Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kelurahan Merah Putih bersama Presiden Prabowo Subianto di Way Halim, Bandar Lampung, Sabtu (16/5/2026).
Kristomei mengungkapkan, titik pembangunan yang progresnya paling lambat berada di Kali Pasir, Way Bungur, Lampung Timur.
“Yang memang masih agak lambat itu di Kali Pasir, Way Bungur. Karena tempatnya berlumpur, pancangannya perlu stabil dan harus menggunakan teknik khusus. Jadi tidak bisa asal-asalan, memang butuh waktu,” ujarnya.
Meski demikian, Kodam memastikan pembangunan tetap berjalan demi membuka akses masyarakat di wilayah yang selama ini terisolasi.
“Harapannya segera selesai supaya masyarakat bisa punya akses lebih mudah untuk bekerja, sekolah, dan aktivitas lainnya,” tambah Kristomei.
Jembatan Mulai Dipakai Warga
Kodam XXI/Radin Inten mulai menggarap program 28 jembatan perintis sejak April 2026 dengan target pengerjaan 35 hari kerja. Sebanyak 20 jembatan utama dibagi rata di Provinsi Lampung dan Bengkulu, masing-masing 10 titik, sementara sisanya merupakan proyek lanjutan di sejumlah lokasi prioritas.
Di Lampung, pembangunan tersebar di sejumlah daerah terpencil seperti Lampung Timur, Tanggamus, Pringsewu hingga Lampung Utara. Salah satu titik strategis berada di Desa Kali Pasir yang sebelumnya hanya mengandalkan jalur perahu saat musim hujan.
Sementara dua jembatan lain di Sukoharjo 4, Kabupaten Pringsewu, dan Desa Klumbayan, Kabupaten Tanggamus, kini sudah dapat digunakan masyarakat.
“Yang di Sukoharjo sudah menghubungkan Pekon Sukoharjo dengan Pekon Yogyakarta. Kemudian di Klumbayan juga sudah dipakai warga. Tadinya masyarakat harus memutar jauh, sekarang sudah bisa lewat jembatan itu,” ujar Kristomei.
Menurutnya, manfaat pembangunan mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama untuk akses pendidikan dan distribusi hasil pertanian.
“Anak-anak sekolah sekarang lebih mudah berangkat sekolah dan aktivitas ekonomi masyarakat juga mulai bergerak,” katanya.
Harapan Warga dari Jembatan Garuda
Di Way Bungur, pembangunan Jembatan Garuda disambut antusias warga. Kepala Dusun Tanjung Tirto, Joko Triono, berharap jembatan tersebut mampu menjadi penghubung utama antarwilayah dan mengangkat ekonomi masyarakat.
“Kami sangat mendukung pembangunan Jembatan Merah Putih ini untuk penghubung Desa Kali Pasir dan Tanjung Tirto. Mudah-mudahan bisa mengangkat perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Kali Pasir, Joko Suprianto. Ia menyebut jembatan tersebut akan menjadi akses vital tidak hanya bagi warga Lampung Timur, tetapi juga masyarakat dari wilayah sekitar.
“Insyaallah jembatan ini sangat bermanfaat untuk masyarakat Kali Pasir, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan masyarakat yang melintas,” katanya.
Sementara Camat Way Bungur Lusi Aprina menilai kehadiran jembatan akan mempermudah mobilitas anak sekolah hingga mempercepat roda ekonomi warga desa.
“Semoga pembangunan Jembatan Merah Putih Garuda ini bisa mempermudah akses anak sekolah dan perekonomian masyarakat sekitar,” ujarnya.






