PRINGSEWU – (PeNa), Jarum jam belum genap menunjukkan pukul 06.00 WIB saat deretan kendaraan mulai memadati ruas jalan menuju kompleks Pemkab Pringsewu, Minggu (17/5/2026) pagi. Aroma surabi hangat, sate Padang, hingga jamu tradisional bercampur dengan udara sawah yang masih dingin selepas subuh.
Di tempat inilah Nggruput hidup. Sebuah pasar kuliner tradisional yang hanya hadir setiap Minggu pagi, namun selalu berhasil membuat orang rela datang dari jauh hanya demi menikmati suasana desa yang kini mulai jarang ditemukan.
Bukan sekadar tempat sarapan, Nggruput sudah menjelma menjadi ruang nostalgia. Anak-anak berlarian di pinggir sawah, musik angklung terdengar samar dari kejauhan, sementara para pengunjung sibuk memilih jajanan tradisional yang berjejer hampir sepanjang jalan menuju kantor Pemkab Pringsewu.
Nama Nggruput sendiri berasal dari bahasa lokal yang berarti “Minggu pagi-pagi”. Tradisi ini pertama kali digagas pada 1 Oktober 2017 oleh sejumlah pemuda dan tokoh masyarakat Pringsewu yang ingin menghidupkan kembali kuliner tradisional nusantara yang mulai sulit ditemui.
Awalnya hanya festival sehari. Namun antusiasme warga membuat Nggruput terus bertahan hingga kini dan berkembang menjadi salah satu ikon wisata kuliner di Lampung.
Kuliner Tradisional yang Bikin Orang Balik Lagi
Lebih dari 100 pedagang atau bakuler kini mengisi kawasan Nggruput. Sekitar 200 jenis makanan tradisional dijajakan dengan harga yang masih ramah kantong.
Mulai dari kerak telor, ciwel, nasi gudeg, soto Lamongan, surabi, hingga es kipas tradisional, semuanya tersaji di tengah hamparan sawah hijau yang menjadi daya tarik tersendiri.
Suyanti, salah satu pedagang di lokasi, mengaku Nggruput memberi pengaruh besar bagi penghasilan warga kecil seperti dirinya.
“Alhamdulillah tiap Minggu ramai terus. Dagangan sering habis sebelum jam 10, lumayan buat bantu kebutuhan rumah sehari-hari,” ujar Suyanti.
Hal senada disampaikan Marni. Ia menyebut banyak pengunjung sengaja datang karena suasana pedesaan yang sudah sulit ditemukan di perkotaan.
“Pembeli sekarang bukan cuma warga sini. Banyak dari Bandar Lampung juga datang pagi-pagi, katanya suka suasana sawah sama jajanan jadul,” kata Marni.
Rela Berangkat Subuh dari Bandar Lampung
Salah satu pengunjung, Desi, warga Bandar Lampung, mengaku sengaja berangkat bersama keluarganya sejak pukul 05.30 WIB demi menikmati suasana Nggruput.
Menurutnya, perjalanan jauh terasa terbayar begitu sampai di lokasi.
“Di sini makanannya banyak dan harganya terjangkau. Pedagangnya juga ramah-ramah, suasananya masih asri banget buat refreshing keluarga,” ujar Desi.
Bagi Desi, ini bukan kali pertama dirinya datang ke Nggruput. Ia mengaku selalu ingin kembali karena suasana yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Sudah beberapa kali ke sini, tapi selalu pengin balik lagi. Anak-anak juga senang karena bisa kulineran sambil lihat sawah,” ucapnya.
Nggruput memang bukan sekadar pasar kuliner. Di tengah derasnya modernisasi, tempat ini menjadi ruang sederhana yang mempertahankan rasa, tradisi, dan suasana kampung yang perlahan mulai hilang.
Setiap Minggu pagi, Nggruput seperti mengingatkan bahwa kebahagiaan kadang sesederhana duduk di pinggir sawah, menikmati jajanan tradisional hangat bersama keluarga.






