Kulon Progo (PeNa) – DPD RI soroti guru SRT Kulon Progo belum definitif, operasional sekolah dinilai belum maksimal karena tenaga pengajar masih dipinjam dari sekolah umum Kulon Progo.
Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma menilai Sekolah Rakyat membutuhkan guru profesional berkualitas serta memiliki kemampuan khusus mendidik siswa secara intensif dan terarah.
“Harusnya di sini ada guru definitif atau guru tetap,” kata Filep seusai kunjungan kerja di SRT I di Lendah, Kulon Progo Selasa (8/9/2026).
Menurut Filep, guru SRT seharusnya direkrut khusus kementerian terkait, bukan mengambil tenaga dari sekolah lain yang juga mengalami kekurangan guru di sekolahnya langsung sekarang.
“Guru untuk SR juga perlu pembekalan khusus agar bisa bertugas dengan baik,” ujar Filep menegaskan pentingnya standar pengajaran dan kompetensi profesional bagi pengajar tambahan.
Persoalan bertambah karena kepala SRT I Kulon Progo juga bertugas di sekolah rakyat lainnya sehingga pengelolaan dinilai kurang optimal saat ini hingga sekarang berjalan.
Filep meminta pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru SRT agar standar khusus pendidikan tidak berbanding terbalik dengan penghasilan mereka nantinya di lapangan secara nyata para guru.
“Akan sia-sia jika standar guru sudah khusus, tetapi penghasilannya masih sama dengan guru sekolah umum,” kata Filep penuh penekanan selama mereka bertugas di sana.
Meski menyoroti berbagai kekurangan, Filep tetap mengapresiasi program Sekolah Rakyat sebagai bukti negara hadir menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu Indonesia di Indonesia.
“Program SR menjadi solusi terbaik untuk menyelamatkan anak-anak yang tidak mampu agar tetap bisa sekolah,” jelas Filep saat ditemui wartawan langsung pada kesempatan tersebut.
Plt Kepala SRT I Kulon Progo Agus Ristanto mengatakan perekrutan 31 guru definitif Kemensos kini memasuki masa sanggah sebelum penempatan resmi nantinya di Kulon Progo.
Agus menilai guru idealnya memiliki sertifikat pendidikan sekaligus kemampuan pengasuhan karena siswa tinggal di asrama selama mengikuti seluruh proses pendidikan sekolah setiap hari mereka.
“Kalau guru punya sertifikasi pengasuhan, operasional akan lebih irit karena guru bisa sekaligus menjadi wali asuh,” kata Agus menjelaskan hal tersebut secara efisien sekaligus.
Konsep asrama membuat kebutuhan pendampingan siswa menjadi penting, sehingga kemampuan pengasuhan dinilai dapat membantu sekolah menghemat kebutuhan tenaga pendukung tambahan secara signifikan di asrama.
Selain guru, SRT I Kulon Progo masih menghadapi persoalan air bersih karena kebutuhan harian bergantung pada dropping menggunakan truk tangki setiap hari di sekolah.
Agus mengungkap distribusi air sempat terlambat ketika sekolah baru beroperasi, sehingga siswa pernah tidak mandi pagi sebelum mengikuti pelajaran sekolah pada pagi hari sekolah.
“Harusnya airnya dari PDAM langsung mengalir ke sini,” ujar Agus setelah menyinggung pemadaman listrik yang sempat terjadi sebelumnya di sekolah di awal operasional tersebut.
Persoalan kebersihan juga muncul pada awal operasional karena siswa belum terbiasa menjaga lingkungan dan masih membuang sampah sembarangan di halaman sekolah tersebut saat awal.
“Edukasi ke anak-anak menjadi penting agar mereka ada rasa memiliki dan ikut menjaga,” jelas Agus tentang pembenahan lingkungan sekolah bersama siswa secara bersama-sama terus.
Pemkab Kulon Progo sebelumnya menjanjikan jaringan air bersih dari Bendung Kamijoro, tetapi pembangunan sambungan tersebut membutuhkan biaya cukup besar hingga kini direalisasikan untuk sekolah.
Di tengah keterbatasan fasilitas, siswa mengaku betah tinggal sebulan terakhir karena aktivitas asrama berjalan normal dan kebutuhan makanan tercukupi setiap hari selama berada asrama.
Agus menyebut konsumsi siswa ditangani katering pihak ketiga dengan anggaran Rp60 ribu per siswa setiap hari, termasuk makanan berat dan ringan bagi seluruh siswa.WAN






