Menu MBG Ramadan Disorot, Orang Tua Siswa di Lampung Protes: “Jauh dari Standar Gizi”

BANDARLAMPUNG – (PeNa), Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Lampung mendadak jadi sorotan selama Ramadan 1447 Hijriah. Sejumlah orang tua siswa kompak mengeluhkan menu yang dinilai monoton dan jauh dari harapan.

Keluhan mencuat dari wali murid di beberapa sekolah, mulai tingkat SD hingga SMP. Mereka menilai menu kering yang dibagikan selama puasa tidak mencerminkan standar kecukupan gizi seperti yang digaungkan pemerintah.

Bacaan Lainnya

Roy Triono, orang tua siswa SMPN 22 Bandar Lampung, menyebut menu MBG yang diterima anaknya selama Ramadan terkesan “apa adanya” dan minim variasi. Ia bahkan menyimpan catatan menu yang dibagikan dua hari terakhir.

Pada Selasa (24/2/2026), anaknya hanya menerima dua potong jagung rebus, satu buah salak, beberapa kacang rebus, serta satu potong paha ayam. Menu itu dinilai tak sepadan dengan tujuan program.

Sehari berselang, Rabu (25/2/2026), paket makanan berubah menjadi satu lemper, satu nugget ayam ukuran kecil, satu pisang muli, serta lima butir kurma dengan ukuran bervariasi.

“Menu seperti ini jelas tidak sebanding dengan anggaran MBG yang sudah ditetapkan. Terlihat seperti terlalu menekan biaya dan apa adanya saja,” ujar Roy, Rabu (25/2/2026).

Orang Tua Pertanyakan Kredibilitas Penyedia Menu

Roy menilai penyusunan menu selama Ramadan terkesan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia pun mempertanyakan kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan tersebut.

“Perlu dipertanyakan kredibilitas SPPG yang bersangkutan. SPPG-nya seharusnya diaudit oleh Badan Gizi Nasional,” tegas pria 41 tahun itu.

Awalnya, Roy mengaku tak terlalu mempermasalahkan menu yang diterima putrinya. Namun, minimnya variasi dan kualitas makanan selama Ramadan membuatnya merasa prihatin dan mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran.

Tak hanya soal menu, Roy juga menyoroti sikap pihak sekolah yang dinilai kurang responsif. Ia berharap sekolah berani menyampaikan evaluasi jika memang menu MBG tidak sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pihak sekolah kesannya nggak peduli. Padahal kejadian menu MBG seperti ini sudah lama. Kalau memang tidak ada ‘main mata’ dengan SPPG, seharusnya sekolah berani bersuara,” katanya.

Sorotan serupa datang dari Tommy Saputra, orang tua siswa SD Diniyah Putri Lampung. Ia menilai menu kering yang diterima anaknya selama Ramadan jauh dari kata bergizi.

Pada Selasa (24/2/2026), putranya hanya menerima dua roti dan sekotak susu kecil. Keesokan harinya, menu yang dibagikan bahkan lebih sederhana, yakni tiga sempol ayam dan satu roti kecil.

“Mau orang tua jelas ke depan menu MBG selama Ramadan maupun hari biasa dapat diperbaiki, agar benar-benar memenuhi kebutuhan gizi siswa sesuai tujuan awal program ini,” ujarnya.

Keluhan juga disampaikan Ira Widya, wali murid di satu sekolah di Kecamatan Sukarame. Ia mengaku mendapati kondisi makanan yang tak layak konsumsi dalam paket MBG yang diterima putrinya.

“Ini gimana ya? Telurnya busuk, salaknya berair. Terus ini ada roti tape dan sebungkus kacang kedelai. Lihat tampilannya saja ngeri, gimana mau makannya. Jadi takut,” tegas Ira.

Gelombang protes para orang tua ini menjadi catatan serius bagi pelaksana program MBG di Lampung. Mereka berharap evaluasi menyeluruh segera dilakukan agar tujuan pemenuhan gizi siswa tidak sekadar menjadi slogan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *