Statistik Catat Adanya Penurunan Ekspor Di Lampung

BANDARLAMPUNG-(PeNa), Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat adanya pergerakan penurunan nilai ekspor dibeberapa komoditi.
Kepala BPS Lampung Yeane Irmaningrum S memaparkan, dari lima golongan barang utama ekspor Provinsi Lampung pada Bulan Februari 2019 yaitu lemak dan minyak hewan/nabati, batu bara, kopi, teh, dan rempah-rempah, ampas/sisa industri makanan, dan bubur kayu/pulp.
“Penurunan ekspor Februari 2019 terhadap Januari 2019 terjadi pada tiga golongan  yaitu bubur kayu/pulp turun 20,36 persen. Lemak dan minyak hewan/nabati turun 18,11 persen, dan kopi, teh, rempah-rempah turun 12,20 persen,” kata dia, Jumat (15/03).
“Sisanya, golongan barang utama yang mengalami
peningkatan adalah ampas/sisa industri makanan yang naik 177,21 persen dan batu bara yang naik 6,04, ” ucap Yeane.
Dijelaskan, perihal negara utama tujuan ekspor Provinsi Lampung pada Bulan Februari 2019 yaitu ke India yang mencapai US$34,61 juta, Tiongkok US$22,94 juta, Pakistan US$21,96 juta, Amerika Serikat US$20,97 juta,dan Srilanka US$17,96 juta. “Peranan kelimanya mencapai 48,14 persen,” jelas dia.
Menurutnya, tidak hanya ekpor yang mengalami penurunan, Nilai impor Provinsi Lampung Februari 2019 juga ikut-ikutan turun.
Dari US$155,20 juta, mengalami penurunan sebesar US$141,78 juta atau turun 47,74 persen dibanding Januari 2019 yang tercatat  US$296,99 juta.
“Nilai impor Februari 2019 tersebut masih lebih rendah US$4,78 juta atau turun 2,99
persen jika dibanding Februari 2018 yang tercatat US$159,98 juta,” ungkap mantan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Hukum Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tersebut.
Dan dari lima golongan barang impor utama pada Februari 2019, dua diantaranya mengalami penurunan, yaitu masing-masing ampas/sisa industri makanan turun 62,96 persen dan pupuk turun 52,00 persen.
Adapun golongan barang impor utama yang mengalami peningkatan adalah gula dan kembang gula naik sebesar 6.960,83 persen,  kendaraan dan bagiannya naik 285,06 persen dan binatang hidup naik sebesar
89,25 persen.
“Kontribusi lima golongan barang utama terhadap total impor Provinsi Lampung pada Februari 2019 mencapai 30,43 persen, dengan rincian sebagai berikut, gula dan kembang gula 10,18 persen, binatang hidup 8,89 persen, ampas/sisa industri makanan 5,23 persen, pupuk 3,23 persen, dan kendaraan dan bagiannya 2,89 persen,” papar wanita kelahiran Jawa Timur ini.
Negara pemasok barang impor ke Provinsi Lampung pada Februari 2019 menurut kelompok negara
utama berasal dari Amerika Serikat sebesar US$68,13 juta, Uni Emirat Arab US$21,15 juta, Thailand US$17,30 juta, dan Australia US$13,82 juta, dan Tiongkok US$8,48 juta.
Yuane menegaskan, jika dilihat menurut kelompok negara, impor terbesar berasal dari kelompok negara utama lainnya (Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Australia, Tiongkok dan Argentina) yang mencapai US$115,48 juta, kemudian diikuti ASEAN US$25,18 juta dan Uni Eropa US$1,89 juta.
“Kontribusi impor Provinsi Lampung selama Februari 2019 dari total negara utama mencapai 57,15 persen, terdiri dari kelompok negara utama lainnya 45,80 persen, kawasan ASEAN 10,35 persen dan kelompok Uni Eropa 1,00 persen. Total Impor dari negara utama Februari 2019 mencapai US$142,55 juta,” tegas dia. PeNa-sp.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *