GPM Sleman Bangkit, Danang Maharsa Nyalakan Api Marhaenisme Kaki Merapi ‎

Konfercab mengusung tema “Kaki Merapi Bersatu, Bergerak Bersama Marhaenis”, sekaligus menegaskan komitmen memperjuangkan kepentingan rakyat kecil menghadapi ketidakadilan sosial. ‎

SLEMAN (PeNa) – GPM Sleman menegaskan kebangkitan gerakan Marhaenis melalui Konfercab II, di Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman.

Konfercab mengusung tema “Kaki Merapi Bersatu, Bergerak Bersama Marhaenis”, sekaligus menegaskan komitmen memperjuangkan kepentingan rakyat kecil menghadapi ketidakadilan sosial.

Momentum konferensi bertepatan Maklumat 5 September 1945, ketika Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sebagai bagian sejarah perjuangan bangsa.

Antonius Fokki Ardiyanto memimpin konferensi berdasarkan mandat DPP GPM, sekaligus mengingatkan kader agar organisasi tidak terjebak seremoni, rapat, atribut, jargon semata.

“GPM tidak didirikan untuk menjadi organisasi pajangan. GPM adalah organisasi perjuangan,” tegas Antonius Fokki di hadapan peserta konferensi.

Menurut Antonius, kader harus turun langsung membaca penderitaan rakyat, memahami ketimpangan, kemudian berani memperjuangkan kepentingan kaum Marhaen secara nyata.

“Kalau rakyat kecil sedang berhadapan dengan ketidakadilan, di situlah seharusnya Marhaenis berdiri,” ujarnya menegaskan garis perjuangan organisasi.

Ia menilai Marhaenisme kehilangan makna apabila hanya menjadi identitas politik tanpa keberpihakan nyata terhadap masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Jangan sampai Marhaenisme hanya hidup di mimbar, sementara rakyat Marhaen hidup dalam kesulitan,” kata Antonius mengingatkan seluruh kader GPM Sleman.

Bambang Setyo Martono, senior Marhaenis sekaligus Dewan Pembina DPP GPM, menegaskan Marhaenisme merupakan warisan pemikiran Bung Karno yang relevan.

“Jangan warisi Bung Karno hanya namanya. Warisi keberaniannya, keberpihakannya dan keberaniannya melawan ketidakadilan,” tegas Bambang dalam pendalaman ideologi.

Ia mendorong GPM Sleman membangun gerakan berakar kuat di masyarakat, karena tantangan zaman berubah sementara ketidakadilan terhadap rakyat kecil tetap terjadi.

Kabul Mudji Basuki mewakili senior Marhaenis menyatakan kesiapan berjalan bersama generasi muda membangun kembali kekuatan kerakyatan di Kabupaten Sleman.

“Kami para senior Marhaenis tidak ingin hanya menjadi penonton. Kami siap bergerak bersama GPM,” tegas Kabul dalam forum tersebut.

Kabul mengajak seluruh kader menyatukan kekuatan Marhaenis dan membuktikan bahwa Marhaenisme tetap relevan memperjuangkan kepentingan rakyat di bumi Kaki Merapi.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa turut menghadiri Konfercab II dan berharap Marhaenisme menjadi nilai perjuangan, bukan sekadar pengetahuan sejarah.

“Marhaenisme harus menjadi obor penerang bagi kader-kader Marhaenis di Sleman,” ujar Danang saat menyampaikan harapannya kepada peserta konferensi.

Danang menegaskan warisan ideologi Bung Karno harus terus dijaga, dipahami, kemudian diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Konfercab akhirnya menetapkan Setiyo Budiono alias Budi Black sebagai Ketua DPC GPM Sleman melalui musyawarah mufakat bersama peserta konferensi.

Kabul Mudji Basuki ditetapkan Ketua Dewan Pembina, sementara Bindi Dwi Raharjo dipercaya sebagai Ketua Dewan Penasehat GPM Sleman.

Budi Black berjanji membesarkan organisasi sekaligus memastikan GPM memberikan manfaat langsung kepada rakyat melalui gerakan nyata dan keberpihakan konsisten.

“Saya berjanji GPM Sleman akan besar, tetapi kebesaran itu harus terasa manfaatnya bagi rakyat Marhaen,” tegas Budi Black.

Konfercab II menjadi deklarasi bahwa Marhaenisme Sleman tidak ingin menjadi fosil sejarah, melainkan bergerak menjawab persoalan rakyat menghadapi perubahan zaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *