Kadisdik Pesawaran Nangis Bathin Dan Meminta Maaf

PESAWARAN-(PeNa), Melihat kondisi ruang kelas yang tidak ada kursi untuk kegiatan belajar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesawaran Fauzan Suaidi nangis bathin.
Hal tersebut terungkap saat melakukan inspeksi mendadak ke SDN 57 di Dusun Gunung Batu, Desa Pampangan Kecamatan Gedong Tataan, Jumat (23/08/2019).
Menurutnya, sejak ia sekolah sampai menjadi kepala dinas belum pernah melihat adanya anak sekolah belajar dengan lesehan.
“Kurang lebih sekitar empat puluh lima tahun lalu sampai sekarang, saya baru melihat ada anak sekolah belajar dengan lesehan. Terus terang, saya nangis bathin melihat kondisi seperti ini, ” kata Fauzan sambil berkaca-kaca di sekolah tersebut.
Kondisi tersebut, Fauzan langsung mengambil sikap dengan segera memberikan bantuan yang diperlukan paling prioritas.
“Ya, mudah-mudahan tidak sampai sebulan nanti kita realisasikan apa yang menjadi kebutuhan prioritas. Karena memang berkasnya sudah sampai dikeuangan, ” ujar dia.
Fauzan juga mengatakan sekolahan tersebut mendapat bantuan fisik berupa bangunan tiga lokal berikut meubelernya.
“Nanti kita upayakan melalui dana alokasi khusus (dak), kalau tidak bisa kita upayakan melalui APBD dan kalau masih tidak bisa juga akan saya lakukan dengan dana pribadi. Karena, Bupati dan Wakil Bupati selalu terus meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, ” ucap dia.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah SDN 57 Gedong Tataan Nirawati beserta jajaran menyampaikan terima kasihnya kepada Bupati Dendi Ramadhona dan Wakil Bupati Eriawan melalui Kadisdik Fauzan Suadi.
“Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada bapak Bupati Dendi Ramadhona dan Bapak Wakil Eriawan, melalui Kepala Disdikbud bapak Fauzan yang telah meluangkan waktunya untuk meninjau SDN 57 Gedongtataan,” ujarnya.
Untuk diketahui, gedung SDN 57 Gedong Tataan sebelumnya merupakan SDN 2 Pampangan yang dibangun pada tahun 1984. Siswa-siswinya pun hanya sekitar 47 anak dengan tenaga guru honorer empat orang serta guru yang sudah pegawai negeri sipil (pns) tujuh orang berikut kepala sekolahnya.
Jalan menuju dusun tersebut masih onderlag hingga berkilo-kilo meter dengan naik turun serta terjal dan melewati perkebunan karet milik PTPN VII. Masyarakatnya hidup dengan berkecukupan dengan pendapatan dari kebun yang dikelolanya.
Oleh: sapto firmansis

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *