Kebijakan Walikota Pemicu Warga Bandar Lampung Tidak Bahagia

Bandar Lampung (PeNa)-Kota Bandar Lampung menjadi daerah penyumbang terbesar merosotnya indeks kebahagiaan di Provinsi Lampung, angka kemiskinan dan tingkat perceraian di Kota tapis Berseri yang tiap tahunnya mengalami peningkatan alhasil berpengaruh negatif terhadap indeks kebahagiaan masyarakat.Beberapa indikator tersebut juga inflasi yang terjadi dinilai publik merupakan ekses dari  kebijakan blunder Walikota Herman HN yang dikenal temperamen.

Selain itu, nilai koefisien regresi jumlah penduduk miskin sebesar -2,022665 dengan probabilitas sebesar 0,0203 yang lebih kecil dari 0,05 menunjukan bahwa jumlah penduduk miskin berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat dan faktor pendukung merosotnya indeks kebahagiaan adalah ukuran kesejahteraan, sangat manusiawi jika warga Bandar Lampung tidak bahagia karena kurang sejahtera.

Tingginya inflasi sejak Walikota dijabat Herman HN, Kota tapis Berseri berada di  peringkat teratas dari 82 kota se-Indonesia juga menjadi penyumbang terbesar atas merosotnya indeks kebahagiaan warga Bandar Lampung.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Yoane Irma Ningrum menyebutkan per Januari lalu inflasi yang terjadi mencapai 1,42 persen dan otomatis hal itu menajdi dampak negatif terhada daya beli masyarakat.

“Pada Januari 2018, inflasi di Kota Bandar Lampung mencapai 1,42 persen. Angka tersebut menempatkan Kota Bandar Lampung menduduki peringkat teratas dari 82 kota se-Indonesia,” kata kepala BPS provinsi Lampung, Yoane Irma Ningrum saat menggelar konferensi pers di Kantor BPS Provinsi Lampung, Kamis (1/2/2018) lalu.

Menurut pengamat ekonomi Universitas Bandar Lampung (UBL) Erwin Oktavianto, tingginya inflasi Kota Bandar Lampung berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat yang semakin berkurang.

”Inflasi memberikan dampak negative ke masyarakat. Mereka akan extra mengeluarkan anggarannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika inflasi dibiarkan, masyarakat mengalami besar pasak daripada tiang, artinya lebih besar pengeluaran ketimbang pemasukan serta semakin tergerus akibat melambungnya harga kebutuhan pokok,” jelasnya.

Elkana Catur, Ketua Kompartemen Livable City IAP, seperti dikutip dari Idntimes, terdapat lima aspek terbawah yang paling dirasa kurang oleh masyarakat.

Aspek dimaksud yakni ketersediaan transportasi, keselamatan, pengelolaan air kotor dan drainase, fasilitas pejalan kaki, serta informasi pembangunan dan partisipasi masyarakat.

“Saat ini, banyak warga berharap bisa dilibatkan lebih luas dalam pembangunan, ini perlu diperhatikan,” ujarnya, Jumat (2/2/2018) lalu.

IAP meluncurkan indeks kota layak huni di Indonesia. Indeks tersebut disusun berdasarkan hasil survei di 26 kota dan 19 provinsi. Masing-masing kota diwakili 100 hingga 200 warga yang menetap di kota tersebut.

Margin of error survei ini sebesar 95%. Survei dengan menggunakan metode kuisioner skala likert.

Kemudian, berdasarkan data dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung menduduki peringkat pertama  terkait tingginya angka anak putus sekolah dan pengangguran dengan jumlah point mencapai 8,10.

Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Pesawaran dengan 5,73 poin. Sementara Kabupaten Mesuji menduduki peringkat terakhir dari 15 kabupaten/kota se-Lampung dengan 0,65 poin.

Dari data tersebut menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan di Kota Tapis Berseri dari 15 kabupaten/kota se-Lampung. Faktor tersebut merupakan salah satu penilaian dari BPS Provinsi Lampung untuk menilai indeks kebahagiaan dalam suatu daerah.

Sementara itu, faktor meningkatnya kemacetan lalu lintas di Kota Bandar Lampung seiring meningkatnya volume kendaraan.

Sementara itu, faktor pengembangan diri tidak tersalurkan karena  minimnya sarana atau wadah dalam mengembangkan dan memaksimalkan kreatifitas masyarakat.

Untuk diketahui, Indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Indonesia pada skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks, menunjukan tingkat kehidupan yang semakin bahagia dan demikian sebaliknya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *