Kelompok Afiliasi Arinal-Nunik Diduga Sebar Video Black Campaign

Bandar Lampung (PeNa)-Penyebaran video pengakuan Sinta Melyati  di beberapa akun media sosial kuat dugaan dilakukan oleh pihak-pihak yang disinyalir berafiliasi dengan  pacangan calon  Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim dan terindikasi penyebaran video sepihak itu terindikasi dijadikan bahan black campaign untuk menjatuhkan Cagub Petahana M.Ridho Ficardo.

Penyebaran video black campaign yang  merugikan Cagub Ridho pertama kali diketahui tersebar melalui pesan WhatsApp menggunakan  mlink You Tube dengan akun bernama Eka, Senin (28/05) lalu sedangkan  pada Selasa (29/05) akun Instagram relawan_arinal, juga memposting screenshhot video tersebut dengan melampirkan link berita dari media online bergelora.com yang memuat pengakuan Sinta yang belum dapat dipertanggungjawabkan.

Asumsi yang muncul  jika Ada upaya pihak-pihak tertentu yang diduga dilakukan oleh orang-orang yang berafiliasi dengan Pasangan Arinal-Nunik untuk menyerang lawan politik dengan menyebarkan video tersebut sebagai media Black Campaign semakin terlihat dengan dibagikan di Grup WhatsApp “Diskusi Pilgub 2018 “ bentukan  Ketua AMPG Kota Bandar Lampung, Seno Aji oleh salah satu anggota grup yakni Bisri Mustofa, alhasil kurang dari waktu satu menit komentar penghuni grup kontan bermunculan.

Bisri yang diketahui sebagai anggota grup yang membagikan video ketika dikonfirmasi mengaku mendapatkannya melalui link You Tube, meski Ia tidak berhak mendistribusikan dokumen elektronik yang muatannya melanggar kesusilaan sebagaiamana yang diatur dalam Undang-Undang (UU) ITE Nomor  19 tahun 2016 pasal 45 ayat 1, namun Bisri mengakui jika hanya sekedar membagikan, dan anehnya dengan sedikit gugup Bisri hanya menjawab singkat dan setelah itu telpon berpindah ke rekan Bisri.

“ Kalau saya kan cuma lihat di you tube kan,”jelas Bisri gugup dan tak lama terdengar  suara yang berbeda mengaku  sebagai Bisri dengan nada tinggi menuding jika video itu justru disebarkan oleh Sinta melalui pesan SMS.

Disinggung jika video itu merupakan bahan black campaign dengan enteng Ia mengatakan jika Sinta harus ditangkap.

“Ini aja ditangkep aja Sintanya, itu Sinta yang ngebagi-bagiin, black campaign ,maksudnya apa itu kan dibagikan diseluruh Lampung dan saya juga mendapat kiriman SMS, saya setujunya Sinta itu ditangkep,”katanya.

Meski telah dijelaskan jika proses hokum terhadap Sinta bukan menjadi ranah awak media namun dengan nada berteriak Ia bersikeras jika itu adalah urusan Jurnalis.

“Ini media mana,  ya gak bisa tangkap Sinta itu, kan  juga  urusan kamu itu tangkap Sintanya itu,”serunya.

Terpisah pengamat hukum Universitas Lampung (Unila), Budiono memastikan jika video yang disebar melalui You Tube dan dibagikan melalui pesan WhatsApp adalah bentuk black campaign dan oknum yang menyebarkannya pasti mempunyai tujuan dan kepentingan tertentu.

“ Oknum yang menyebarkan video itu pasti mempunyai tujuan tertentu, dan saya pastikan itu bentuk black campaign, apalagi masuknya lewat semacam operator yang tidak jelas,”

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sambungnya, harus segera melakukan tindakan karena penyebaran video yang cenderung sepihak tersebut otomatis telah merugikan salah satu calon selain itu untuk menjaga kondusifitas pelaksanaan Pilkada  Bawaslu juga harus melakukan koordinasi dengan Polda Lampung khususnya bagian Cyber Crime .

Masyarakat melaporakn kalau tudak lapor dari pihak bawaslu polda menindaklajuti kenapa link itu masuk lewat operator Wa tanpa ada nomor yang jelas, artinya ada motivasi dari tujuan sevar video

“ Ini sudah termasuk hoax black campaign, polri harus segera melakukan upaya penyelidikan guna menjaga kondusifitas mejelang pesta demokrasi mendatang,”ucapnya.

Mengenai video yang disebar oleh Bisri Mustofa di Grup WhatsApp Ruang Diskusi Pilgub 2018, Budiono berpendapat hal itu bertentangan dengan UU ITE Nomor  19 tahun 2016 pasal 45 ayat 1.

“Cyber crime Polda Lampung segera menindaklanjuti masalah itu, mengapa ada oknum yang tidak berhak mendistribusikan video yang contennya cenderung hoax dan sepihak, yang menjadi keheranan kita mengapa ada pihak yang tidak berhak mampu menyebarkan melalui media sosial. Sejatinya Bawaslu dan Polda jangan hanya menunggu laporan, khan ini sudah jelas ada buktinya jika video itu menyebar dengan bebas,”tandasnya.

Sementara Ketua Bawaslu Lampung, Fatikhatul Khoiriah saat akan dikonfirmasi melalui sambingan telepon meski dalam keadaan aktif tidak menjawab sedangkan Komisioner Ade Asy’ari saat dihubungi berdalih tengah mengikuti rakor.

“ Sekarang lagi Rakor, nanti saya telepon balik,”singkatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *