Pagar Permanen hingga Turunnya TNI, Solusi Akhiri Konflik Gajah Liar di Way Kambas

Lampung Timur – (PeNa), Konflik berkepanjangan antara gajah liar Sumatera dan warga desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mulai menunjukkan arah penyelesaian.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan langkah konkret untuk memutus rantai konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.

Bacaan Lainnya

Salah satu upaya utama yang disiapkan adalah pembangunan pagar permanen di sepanjang batas kawasan TNWK. Pagar dengan panjang sekitar 60 hingga 70 kilometer itu dirancang sebagai pengaman fisik agar gajah tetap berada di habitat alaminya dan tidak masuk ke permukiman warga.

Proyek tersebut direncanakan mulai dikerjakan pada 2026 dan saat ini telah memasuki tahap survei lokasi. Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, keselamatan satwa, serta efektivitas perlindungan bagi masyarakat desa penyangga.

TNI Diterjunkan Antisipasi Gajah Masuk Permukiman

Sambil menunggu pembangunan pagar rampung, TNI diturunkan untuk membantu warga mengantisipasi masuknya kawanan gajah ke wilayah permukiman. Kehadiran prajurit di lapangan diharapkan mampu menekan potensi konflik sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Panglima Kodam XX/21 Raden Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan keterlibatan TNI merupakan bagian dari tugas perbantuan kepada pemerintah daerah dalam menjaga keamanan wilayah.

“Personel dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan Labuhan Ratu membantu masyarakat menghalau gajah liar sekaligus menjaga keamanan desa penyangga Taman Nasional Way Kambas,” ujar Kristomei.

Langkah ini dinilai mendesak mengingat konflik manusia dan gajah di kawasan tersebut telah berlangsung lama. Warga kerap mengalami kerugian akibat rusaknya lahan pertanian hingga fasilitas umum. Dalam beberapa peristiwa, konflik bahkan berujung pada korban jiwa.

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menilai sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi.

“Selain pembangunan infrastruktur, keterlibatan TNI diperlukan untuk menjaga kondusivitas wilayah dan meminimalkan ancaman gajah liar kepermukiman,” kata Ela.

Pemerintah berharap pembangunan pagar permanen menjadi solusi jangka panjang bagi konflik tersebut. Dengan adanya pembatas kawasan, gajah diharapkan tetap berada di habitatnya, sementara warga desa penyangga dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa rasa cemas.

Peristiwa tragis yang menewaskan Kepala Desa Braja Asri, Darusmas, akibat serangan gajah liar saat berupaya melindungi wilayahnya, menjadi pengingat keras bahwa penyelesaian konflik manusia dan gajah di Way Kambas tidak lagi bisa ditunda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *