JAKARTA – (PeNa), Nama Poengky Indarti sudah dikenal luas di dunia advokasi hukum dan hak asasi manusia. Lahir di Surabaya, 18 Februari 1970, ia terlibat dalam berbagai kasus besar, termasuk kasus Marsinah pada 1993 dan uji materi UU Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi.
Selama lebih dari tiga dekade, ia membangun reputasi sebagai pembela hak masyarakat marginal dan tokoh penting dalam advokasi HAM.
Kini, Poengky maju sebagai calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), membawa misi besar memberantas korupsi.
Dalam uji kelayakan yang digelar Komisi III DPR RI, Senin (18/11/2024), Poengky menyampaikan visinya untuk memperkuat peran KPK pasca Pemilu dan Pilkada 2024.
“Dengan pemerintahan baru, potensi kebocoran anggaran harus diantisipasi dengan pengawasan optimal,” ujarnya.
Poengky juga menyoroti pentingnya pengawasan di daerah otonomi baru (DOB), seperti Papua dan Papua Pegunungan.
“Wilayah-wilayah ini memerlukan perhatian khusus karena rawan korupsi,” tegasnya.
Perkuat Sinergi dan Keterlibatan Publik
Menurut Poengky, keberhasilan KPK bergantung pada sinergi dengan aparat pengawasan pemerintah dan masyarakat. Ia berencana melibatkan perempuan dan media dalam pengawasan.
“Keterlibatan masyarakat menjadi kunci efektivitas pengawasan,” kata Poengky.
Sebagai mantan Komisioner Kompolnas, Poengky yakin mampu membangun koordinasi dengan Polri dan Kejaksaan.
“Sinergi antar-lembaga sangat penting dalam memberantas korupsi,” tambahnya.
Poengky juga menekankan pentingnya pencegahan melalui pendidikan dan perbaikan sistem administrasi.
Ia mendukung hukuman maksimal bagi pelaku korupsi untuk memberikan efek jera.
“Pencegahan efektif dilakukan dengan edukasi untuk mencegah masyarakat terjerumus dalam korupsi,” ungkapnya.
Rekam Jejak dan Komitmen
Poengky merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga (1993) dan Master of Laws dari Northwestern University, AS (2003).
Ia pernah menjabat Direktur Eksekutif Imparsial dan aktif dalam advokasi perdamaian Papua melalui Jaringan Damai Papua.
Sebagai Ketua Dewan Pengawas Yayasan Museum HAM Omah Munir, Poengky melanjutkan perjuangan almarhum Munir Said Thalib.
Ia juga menjadi Visiting Research Fellow di Jeonbuk National University, Korea Selatan.
Jika terpilih memimpin KPK, Poengky berkomitmen membawa pendekatan strategis dan inklusif untuk mencegah dan memberantas korupsi.
Ia bertekad menciptakan pemerintahan bersih demi kesejahteraan masyarakat.






