P R I N G S E W U -(PeNa), Sejumlah pihak sekolah mengeluhkan bangunan yang diduga dikerjakan asal jadi pada proyek pembangunan ruang kelas baru, ruang guru, ruang UKS dan pembangunan WC. Proyek pembangunan tersebut menelan milyaran rupiah dari APBD tahun anggaran 2025 di Kabupaten Pringsewu.
Sekolah yang mendapatkan proyek pembangunan tersebut diantaranya adalah SDN 3 Pringsewu Barat dengan anggaran Rp.564.902.652,86. Kemudian, SDN 2 Rantau Tijang dengan anggaran Rp.554.445.268,43. Dan, SMPN 1 Adiluwih dengan anggaran Rp.689.772.235,12. Serta, SMPN 1 Ambarawa juga telah menghabiskan Rp.899.756.373,52.
Lalu, SMPN 1 Satap Pardasuka dengan anggaran Rp.449.922.212,51. Dan, SDN 3 Pujodadi dengan menelan anggaran Rp.739.970.471,21. Kemudian, SMPN 1 Gading Rejo dengan anggaran Rp.554.962.390,42. Dan, SDN 3 Wonodadi dengan anggaran Rp.569.991.468,95. Serta, SDN 2 Wonodadi dengan anggaran Rp.554.445.335,93 dan SMPN 2 Sukoharjo yang menelan anggaran Rp.544.911.519,52.
“Bangunan bisa dilihat sendiri, ada yang bocor ada yang jendelanya sudah rusak,” kata Kepala Sekolah SMPN 1 Ambarawa Sodikin melalui Lena Ristiowati yang mengaku selaku bagian sarana dan prasarana (Sarpras) sekolah tersebut, Senin (03/08/2026).
Pada bangunan yang baru saja dibangun tersebut, kuat diduga tidak menggunakan material yang ditentukan. Misalnya, yang terlihat mata telanjang adalah bangunan tersebut menggunakan besi ukuran kecil dan polos (bukan ulir) pada tiang konstruksinya.
Serupa juga dapat dilihat pada bangunan yang telah selesai dibangun di sekolah-sekolah lainnya. Pihak sekolah sangat berharap ada perbaikan sehingga kedepan bisa digunakan tanpa khawatir terjadi sesuatu.
“Ini kemarin saya yang pasang besi sendiri, karena atapnya goyang kena angin jadi sobek. Khawatir nambah parah, kami panggil tukang sendiri dan memperbaiki dengan memasang besi reng,” kata Amirudin, Kepala Sekolah SDN 3 Pringsewu Barat sambil menunjuk pojokan atap di Ruang UKSnya.
Untuk menanggapinya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pringsewu Supriyanto saat akan ditemui dikantornya belum dapat dikonfirmasi terkait dugaan adanya bancakan pada proyek pembangunan disekolah yang menghabiskan bermilyar-milyar rupiah.
“Pak Kadis keluar tadi,” kata salah satu lelaki yang mengaku sebagai stafnya.
Kemudian, ketika dihubungi melalui pesan dan telepon WhatsApp nya, meski kondisi aktif namun Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pringsewu Supriyanto juga tidak membalas maupun meresponnya. Hingga berita ini ditayangkan, pelitanusantara.co.id masih menunggu konfirmasi yang bersangkutan agar publik mendapatkan informasi atau penjelasan yang berimbang.






