Siang Jadi Kuli Bangunan, Malam Mengguncang Dunia Islam: Siapa Sebenarnya Mbah Riyan?

Siapa sangka, di balik tubuh penuh debu semen dan pakaian lusuh seorang kuli bangunan, tersembunyi sosok ulama kelas dunia yang karyanya jadi rujukan lintas negara.

Dialah Mbah Riyan Al-Mastur—atau yang dulu akrab dipanggil “Supri”.

Warga Kudus mengenalnya sebagai pekerja bangunan biasa. Setiap hari ia mengangkat pasir, mencampur semen, dan bekerja di bawah terik matahari. Tak ada yang tampak istimewa.

Namun saat malam tiba, hidupnya berubah drastis.

Ia menjelma menjadi seorang muhaqqiq—peneliti kitab klasik tingkat tinggi yang pekerjaannya tak main-main: membongkar naskah kuno, membandingkan berbagai versi kitab, memburu kesalahan penulisan, hingga mengembalikan teks ke bentuk paling otentik.

Ini bukan pekerjaan sembarangan.

Seorang muhaqqiq harus menguasai bahasa Arab tingkat tinggi, memahami isi kitab secara mendalam, sekaligus memiliki ketelitian layaknya detektif sejarah. Salah sedikit, makna bisa berubah.

Dan yang lebih mencengangkan—semua itu ia lakukan di sela-sela pekerjaannya sebagai kuli bangunan.

Di dunia internasional, ia dikenal dengan nama Ibnu Harjo Al-Jawi. Karya-karyanya beredar luas, menjadi rujukan penting dalam studi kitab-kitab klasik yang rumit.

Ia meneliti manuskrip tua, mengoreksi kesalahan yang mungkin sudah berumur ratusan tahun, dan menghidupkan kembali warisan keilmuan yang nyaris hilang.

Kontrasnya mencolok:
Siang hari bergelut dengan bata dan semen.
Malam hari bergelut dengan ilmu dan peradaban.

Seolah hidup di dua dunia yang berbeda.

Namun puncak kisah ini justru datang dari sikapnya.

Tahun 2026, ia dianugerahi MUI Award—penghargaan bergengsi atas kontribusinya. Sebuah momen yang bagi banyak orang adalah puncak prestasi.

Tapi yang terjadi?

Ia tidak datang.

Tanpa panggung. Tanpa sorotan. Tanpa pidato.

Keputusan yang membuat banyak orang terdiam.

Di saat dunia berlomba mencari pengakuan, Mbah Riyan justru memilih menjauh. Bukan karena tak layak, tapi mungkin karena ia paham: popularitas bisa mengaburkan keikhlasan.

Kisah ini seperti tamparan halus di era serba pencitraan.

Bahwa tidak semua orang hebat ingin terlihat hebat.

Bahwa ada orang-orang yang memilih tetap “kecil” di mata manusia, agar tetap besar di hadapan ilmu.

Dan mungkin, di antara suara bising dunia yang haus validasi, sosok seperti Mbah Riyan adalah pengingat paling jujur—bahwa ketulusan tak pernah butuh panggung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *