BANDARLAMPUNG – (PeNa), Asri, seorang bidan yang bertugas di puskesmas, memanfaatkan waktu di luar pekerjaannya untuk mengembangkan usaha kain tapis khas Lampung. Di tengah perannya sebagai tenaga kesehatan, istri prajurit ini berhasil mengangkat tapis ke pasar modern melalui inovasi batik tapis.
Usaha itu bermula pada 2023, saat Asri memutuskan melanjutkan bisnis sulam tapis milik orang tuanya yang telah dirintis sejak 1992. Keputusan itu diambil saat orang tuanya mulai berhenti produksi karena faktor usia.
“Saya ingin tetap produktif dari rumah dan membantu perekonomian keluarga, tanpa meninggalkan peran sebagai ibu dan istri,” kata Asri, Rabu (8/4/2026).
Tapis sendiri merupakan kain tradisional Lampung yang sarat makna. Motif sulaman benang emas atau perak mencerminkan nilai budaya, kehormatan, dan perjalanan hidup masyarakat setempat.
Inovasi Tapis Masuk Pasar Modern
Berbeda dari tapis konvensional yang identik dengan acara adat, Asri menghadirkan inovasi dengan memadukan batik dan sulam tapis. Produk tersebut dirancang agar bisa digunakan dalam aktivitas sehari-hari tanpa menghilangkan identitas budaya.
“Kalau dulu tapis lebih sering dipakai di acara formal, sekarang kami buat agar bisa dipakai di kegiatan nonformal,” ujarnya.
Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, Asri merintis usahanya secara bertahap. Ia belajar mengelola produksi, pemasaran hingga keuangan secara mandiri.
“Awalnya kami jalankan pelan-pelan, sambil belajar menjaga kualitas dan mencari pasar,” katanya.
Dukungan juga datang dari organisasi Persit, yang turut mendorong perkembangan usaha tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi kreativitas dan ketekunan Ibu Asri dalam mengembangkan tapis Lampung,” ujar Ketua Daerah XXI/Radin Inten.
Buka Lapangan Kerja
Kini, UMKM Asri Tapis Lampung telah mempekerjakan tujuh orang karyawan. Usaha tersebut tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
“Usaha ini bukan hanya untuk keluarga, tapi juga agar masyarakat sekitar bisa ikut merasakan manfaatnya,” kata Asri.
Ia menegaskan, tujuannya bukan sekadar bisnis, tetapi juga menjaga eksistensi tapis di tengah perkembangan zaman.
“Saya ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai tapis sebagai identitas budaya Lampung,” ujarnya.
Dari puskesmas hingga ruang produksi, Asri membuktikan perempuan mampu menjalankan banyak peran sekaligus, tanpa meninggalkan akar budaya yang diwariskan turun-temurun.






