Tangani Pelanggaran Pilkada, Bawaslu Hanya Retorika

Bandar Lampung (PeNa)-Lambannya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Lampung dalam menindaklanjuti dugaan pelanggaran Pilkada yang kerap dilakukan oleh (Pasangan Calon) nomor tiga Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim alhasil memicu opini negatif publik.

Pendapat yang memgemuka, selain tidak tegas dalam menegakkan aturan, pembiaran Bawaslu atas kehadiran Vice President PT. Sugar Grup Companies, Lee Purwanti dalam setiap kampanye Arinal-Nunik semakin menegaskan jika institusi yang berdiri sejak tahun 2008 lalu itu tak ubah macan ompong, meski memiliki kewenangan lebih kuat sebagaimana diamanatkan konstitusi. Berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 namun fakta yang terjadi regulasi itu tak mampu membuat Bawaslu Garang menghadapi koorporasi yang kerap dituding sebagai terduga pengemplang pajak.

Bahkan politisi senior M.Alzier Dianis Thabranie mengaku heran dengan mandulnya Bawaslu yang tidak mampu membatalkan pasangan Arinal-Nunik dalam kontestasi yang di gelar Juni mendatang.

“Pilgub ini, Bawaslu harus tegas membatalkan paslon gubernur nomor urut 3, alasannya Pensiunan PNS, mana ada naik Helikopter kemana – mana saat kampanye, gak masuk akal aja. Apa yang dilakukan Arinal Djunaidi selama ini tak masuk akal jika tidak dibiayai oleh PT SGC dalam modal kampanye pilgub, seharusnya Bawaslu membatalakan pasangan itu dalam Pilgub,”tegas Alzier usai menghadiri pleno terbuka sampel dukungan calon DPD RI, di Hotel Emersia Bandar Lampung, Senin, (28/5).

Sebagai Cagub, Arinal dinilainya tidak mampu menjaga etika  dan tidak mampu memberi teladan pada masyarakat dengan tidak merasa risih saat kampanye saling berpelukan dengan Lee Purwanti apalagi  partai pengusung yakni PKB dan PAN sebagian besar memilik basis NU dan Muhammdyah.

“Saya sebagai tokoh Lampung miris melihatnya, mau dibawa kemana provinsi Lampung ini kedepannya. Masak ada Calon gubernur Lampung yang tidak berwibawa dipeluk peluk oleh Boss PT. SGC (Purwanti lee) di setiap ada kegiatan kampanye, mau jadi apa ini Lampung, ” tanya dia.

Selain tontonan yang tidak bermoral, Alzier juga mengaku heran dengan hadirnya Kepala BN2PTKI, Nusron Wahid saat tim Gakumdu mendatangi gudang logistik di Bukit Kemuning, sebagai pejabat negara ia menilai Nusron gagal paham akan aturan dan lebih cenderung mengedepankan kepentingan partai dibanding dengan nasib TKI.

Apa Nusron Wahid pejabat negara kok ikut turun ke lapangan bela paslon nomor 3, mana ada aturannya pejabat negara bela belain turun ke lapangan. Ngawur aja itu, ” tegasnya.

Oleh sebab itu mantan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Lampung itu menyayangkan jika Provinsi Lampung dipimpin oleh pemimpin yang tidak berwibawa.

Oleh karenanya, dia mengajak agar memilih pemimpin tidak dimodali cukong-cukong.

“Saya minta cari pemimpin Lampung itu kalau gak Herman ya Ridho, yang gak dimodali oleh cukong, ” kata dia yang mengaku pasang besar besar biar semua tahu, jangan takut takut, katanya.

Media kata Alzier harus terbuka dan jangan tutup mata dengan apa yang terjadi saat ini.

“Media jangan takut takut, harus berani memberitakan, jangan sampai nanti abis Pilgub kita diacak acak,” katanya.

Sedangkan ketua Bawaslu Lampung Fatikhatul Khoiriyah mengaku saat ini pihaknya terus mendalami penemuan gudang logistik atribut kampanye milik pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung nomor urut 3 Arinal-Nunik di kediaman atau gudang Ruslan Efendi anggota DPRD Golkar Lampung Utara.

“Terkait uang didalam mobilnya pemilik gudang itu tidak ada bahan kampanyenya disitu, tapi ini tetap akan kita klarifikasi juga,” kata Khoir.

Khoir menjelaskan bahwa Adanya Nusron Wahid yang diberitakan di beberapa media terciduk, perlu diluruskan, itu juga kurang tepat bahasanya, bahwa saat itu Panwaslu Lampura duluan berada di lokasi, kemudian mendengar gudang ada ramai ramai, pemilik gudang Ruslan efendi dan Nusron Wahid yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju Lampung Barat dan singgah ke tempat Ruslan Efendi, kemudian mengecek ke gudang.

“Itu internal mereka ya antar sesama orang partai. Kenapa kami tidak menanyakan ini kehadiran Nusron Wahid disitu, karena memang itu bukan sedang dalam kampanye, jadi kami tidak perlu menanyakan apakah sedang cuti atau bukan kehadiran Nusron Wahid disitu, ” jelasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *