Bakauheni – (PeNa), Di tengah ramainya arus mudik, pilihan menggunakan sepeda motor masih jadi cerita tersendiri. Bagi Rusdianto, perjalanan panjang dari Bekasi ke Kotabumi, Lampung Utara bukan sekadar pulang kampung, tapi juga soal menikmati setiap momen di jalan.
Usai dua tahun tak mudik, Rusdianto akhirnya kembali menempuh perjalanan darat dengan motor. Ia berangkat malam hari usai salat Isya, membawa keluarga kecilnya, termasuk anak dan kerabat yang ingin merasakan pengalaman pertama ke Lampung.
Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh lebih cepat, justru ia nikmati perlahan. Banyaknya pemberhentian menjadi konsekuensi, sekaligus bagian dari cerita.
“Malam Senin habis Isya berangkat dari Bekasi, nyampe Kotabumi jam 11 siang,” kata Rusdianto, saat ditemui di kawasan Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (26/3/2026).
Dengan durasi sekitar 12 jam, perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Ia harus menyesuaikan ritme perjalanan karena membawa anak kecil.
“Ya, banyak berhenti karena kita bawa anak kecil, ya kan,” ujarnya.
Namun di balik lamanya waktu tempuh, Rusdianto justru menemukan sisi lain dari mudik menggunakan motor: kebebasan menikmati perjalanan. Ia bahkan mengajak adik iparnya yang penasaran dengan suasana kampung halaman di Lampung.
“Biasanya berdua dengan istri, tapi tahun ini bawa keluarga. Dia orang pengen ngerasain sensasi ke Lampung, ya sudah kita enjoy saja di jalan,” ucapnya.
Selama perjalanan, ia mengaku merasa cukup aman. Kehadiran petugas di sepanjang jalur mudik memberikan rasa nyaman bagi para pemudik, terutama pengguna roda dua.
“Alhamdulillah aman di jalan, petugas juga ramai, jadi bikin nyaman,” jelas Rusdianto.
Selain itu, ia juga melihat perubahan signifikan pada kondisi jalan di Lampung dibandingkan beberapa tahun lalu. Infrastruktur yang membaik membuat perjalanan terasa lebih lancar.
“Kalau dibanding dulu, sekarang jalannya lebih nyaman. Pembangunan di Lampung sudah terasa banget,” tambahnya.
Bukan Sekadar Perjalanan, Tapi Pengalaman
Bagi Rusdianto, memilih motor bukan sekadar soal biaya atau efisiensi. Ada pengalaman yang tidak tergantikan—mulai dari berhenti di titik-titik menarik, hingga mengabadikan momen di sepanjang perjalanan.
Di balik lelahnya perjalanan 12 jam, ada cerita tentang kebersamaan, kebebasan, dan kerinduan yang akhirnya terbayar lunas saat tiba di kampung halaman.






