PESAWARAN-(PeNa), Ditonton seratusan orang, film cerita ‘Sorga Kecil Di Bondowoso’ diputar di Aula Sanika Satyawada Mapolres Pesawaran pada pukul 19.30 WIB, Selasa (17/12/2019).
Film dokumenter tersebut berdurasi kurang lebih lima belas menit dan menceritakan tentang kesetaraan pria dan wanita dalam keluarga kecil dari seorang ustadz. Tontonan apik ini disajikan dalam rangka Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-91 tahun 2019 yang diputar diseluruh kantor kepolisian di seluruh Nusantara.
Usai menyaksikan tontonan film hasil karya Nia Dinata tersebut, Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro mengatakan bahwa kegiatan dilaksanakan masih dalam rangkaian Peringatan Hari Ibu dengan tema ‘Perempuan Berdaya Indonesia Maju’.
“Sorga Kecil Di Bondowoso, film tersebut menceritakan kehidupan keluarga kecil yang unik di Bondowoso yang mengangkat tentang kesetaraan antara pria dan wanita dalam keluarga, ” kata Popon.
Menurutnya, kisah pada cerita film tersebut merupakan kehidupan seorang ustadz di Bondowoso yang sangat progresif dalam aktifitas kesehariannya.
“Dalam cerita film tadi, ustadz juga mengajarkan kepada masyarakat di lingkungan sekeliling tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan dan juga keterlibatan laki-laki dalam kehidupan berumahtangga, ” ujar dia.

Ia menjelaskan, bahwa paparan cerita yang dibawakan ustadz merupakan kisah nyata di Jawa Timur yang dalam keseharian melakukan tugas-tugas seorang ibu rumah tangga seperti mencuci, menjemur baju, memasak, menyapu bahkan sampai memandikan anak.
“Film tersebut mengangkat cerita kisah nyata seorang ustadz di Bondowoso Jawa timur yang tanpa malu, mau melakukan tugas-tugas yang biasa dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga. Seperti misalnya mencuci, menjemur baju, memasak, menyapu bahkan memandikan anak di rumah, ” jelas dia.
Awalnya, warga kampung sempat merasa aneh melihat sang ustadz melakukan pekerjaan rumah tangga. Tapi lambat laun sebuah perubahan pun terjadi. Perilaku yang semula, kini menjadi wajar.
“Hal ini sangat unik mengingat kontek budaya Madura dan kehidupan pesantren yang masih patriarkis khususnya bagi perempuan, ” tegas dia.
Oleh: sapto firmansis






