Bandarlampung (PeNa)-Pelaksanaan Lampung Fair 2017 yang lebih menonjolkan budaya dari luar Lampung menuai kritik sejumlah tokoh adat, kearifan budaya lokal yang semestinya diberi ruang lebih justru terpinggirkan dengan Reog Ponorogo dan Kuda Lumping.
Alhasil, pelaksanaan Lampung Fair justru kontradiktif dengan Semangat Lampung Treasure Of Sumatera, dilombakannya Reog dan Kuda Lumping di ajang LF 2017 selain dari penggiatnya cukup banyak di Bumi Lada, panitia pun menuai keuntungan dengan memungut pendaftaran yang mencapai Rp 500.000 untuk tiap peserta.
“ Semestinya panitia bersikap adil, paling tidak budaya yang dijadikan ajang lomba merepresentasikan beberapa budaya di Lampung, baik itu budaya lokal maupun budaya dari luar Lampung,”kata penggiat budaya Lampung, Suttan Permato Alam, Rabu (13/12).
Dia mengatakan, tak ada yang salah dengan lomba Reog dan Kuda Lumping kjarena itu juga merupakan warisan nenek moyang yang haus dilestarikan, kendati demikian panitia pun tidak mengeyampingkan kearifan lokal yang juga punya potensi yang sama untuk di lombakan.
“ Kita tidak anti budaya dari luar Lampung, reog ataupun Kuda Lumping juga milik saudara kita dari pulau jawa dan harus kita hormati, namun akan lebih baik jika budaya lokal juga diberikan kesempatan yang sama,”tegasnya.

Terpisah, Humas LF 2017 Jihad Akbar saat dikonfirmasi melaui sambungan telepon mengakui jika Reog dan Kuda Lumping menjadi pilihan panitia untuk di lombakan di ajang tersebut, namun sebelum diputuskan menggelar kontes itu, pihaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung.
“ Bukan kita tidak menghormati budaya Lampung, karena di ajang Lampung Fair ini ada juga Festival Lampung Kemilau yang khusus menampilkan budaya lokal, meskipun bukan masuk kategori lomba, karena kami sebelumnya melakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata terkait loma reog dan Kuda Lumping itu, apalagi kan di Lampung, penggiat Reog dan Kuda Lumping sangat banyak,”jelasnya.
Diketahui, pelaksanaan LF 2017 terdapat sejumah kegiatan baik festival maupun lomba, akan tetapi Grand Modern selaku Event Organizer cenderung memilih kontes Reog dan Kuda Lumping, karena kedua ajang itu dinilai panitia lebih banyak peminat dan kewajiban biaya Rp.500.000 untuk pendaftaran tidak akan menuai protes peserta lomba daripada menanggung resiko dengan menggelar lomba adat dan budaya lampung itu sendiri.






