Pengrajin Dan Industri Kecil Adalah Pelaku Ekonomi Berperan Strategis

PESAWARAN-(PeNa), Pengrajin dan Industri Kecil merupakan bagian integral dari masyarakat sebagai pelaku ekonomi, perannya cukup strategis dalam membantu pemerintah untuk memperluas kesempatan berusaha dan peluang kerja serta menggali, melestarikan dan mengembangkan kerajinan seni dan budaya.
Demikian dikemukakan oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Pesawaran Nanda Indira Dendi saat menyerahkan bantuan mesin dan Peralatan Industri Kecil di Desa Negeri Katon Kecamatan Negeri Katon, Kamis (27/12)
“Namun dalam mencapai tujuan tersebut pengrajin dan Industri Kecil masih dihadapkan pada berbagai kendala dan tantangan. Diantaranya adalah kemampuan pengrajin dalam mengakses peluang pasar, terbatasnya kemampuan dan pengelolaan usaha baik dalam aspek produksi, manajemen usaha maupun teknologi, lemahnya kemampuan permodalan usaha serta lemahnya desain dan mutu produk, ” ujar dia.
Sebagai upaya peningkatan kualitas dan promosi produk kerajinan para pengrajin dan industri kecil Kabupaten Pesawaran, Dekranasda Kabupaten Pesawaran bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pesawaran melalui pengembangan kerajinan industri daerah memberikan bantuan mesin dan peralatan kepada 42 kelompok usaha bersama (KUB) pengrajin dan Industri Kecil yang tersebar di 11 kecamatan.
“Bantuan ini sebagai stimulan untuk pengrajin dan Industri Kecil dan bisa menjadi tambahan modal untuk pengembangan usahanya, serta dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pesawaran, dimana Industri Kecil Menengah sebagai ujung tombaknya, ” paparnya.
Perlu di ketahui bahwa Desa Negeri Katon telah menjadi sentra kampung tapis dan galeri tapis dalam proses pembangunan. Telah banyak wisatawan yang berkunjung ke kampung tapis ini untuk melihat cara pembuatan kain tapis.
“Kami bangga karena kain tapis memberikan nilai tersendiri yang dapat menunjukkan kebesaran bagi masyarakat Lampung yang mengenakannya serta menunjukan bahwa kain tapis dibuat dengan keterampilan masyarakat yang tinggi dan bukan sekedar memahami cara untuk membuat kain, ” tutur dia.
Oleh sebab itu, kain tapis masih tetap eksis diera globalisasi ini karena adanya proses pembelajaran antar generasi dan akhirnya kain tapis tidak hanya sekedar selembar kain sebagai benda pakai, akan tetapi berupa simbol budaya yang telah ada dalam kehidupan tradisi dan kehidupan sosial dimasyarakat.
“Kami berharap dengan adanya bantuan tersebut, kelompok usaha bersama (KUB) penerima bantuan dapat memanfaatkan bantuan tersebut secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan kelompoknya, ” tegas dia. PeNa-spt.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *