BANDARLAMPUNG, (PeNa) – Sepiring seruit tak lagi sekadar menjadi identitas kuliner Lampung. Di tangan Elinawati atau yang akrab disapa Bu Lin, pemilik Sambal Seruit Bu Lin, tradisi makan bersama itu menjelma menjadi ruang lahirnya mimpi-mimpi baru para pelaku usaha mikro.
Pada peringatan Hari Nyruit Nasional ke-4 yang digelar di Bandar Lampung, Sabtu (25/7/2026), Bu Lin meresmikan komunitas “The Next Local Hero”, sebuah wadah yang disiapkan untuk membantu UMKM lokal yang ingin berkembang dan naik kelas.
“Ini sudah tahun keempat kami mengadakan Hari Nyruit Nasional. Tahun ini kami membuka satu komunitas, yaitu The Next Local Hero, untuk membantu UMKM-UMKM kecil yang mau naik kelas,” kata Bu Lin, Sabtu (25/7/2026)
Menurut dia, komunitas tersebut terbuka bagi seluruh pelaku UMKM di Lampung yang ingin belajar, berjejaring, dan mengembangkan usahanya. Program ini juga menjadi kelanjutan dari perjalanan Sambal Seruit Bu Lin yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Lampung.
Tak hanya menyediakan wadah, Bu Lin juga menyiapkan skema kemitraan bagi para pemenang dan peserta terpilih. Salah satunya berupa dukungan senilai Rp 100 juta yang akan diwujudkan melalui kerja sama jangka panjang.
“Itu sebenarnya bentuk kemitraan. Untuk produknya tetap milik mereka, tetapi kami akan mendukung kegiatan dan pengembangan kuliner mereka,” ujarnya.
Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Keputusan Bu Lin membantu pelaku UMKM bukan tanpa alasan. Ia mengaku pernah berada di posisi yang sama, berjuang membesarkan usaha dengan keterbatasan modal, relasi, hingga promosi.
“Awalnya saya juga belajar dari coba-coba. Saya tidak menyangka usaha ini bisa sebesar sekarang. Dulu saya terbentur modal, relasi, sampai media. Dari situ saya berpikir, kenapa UMKM lain tidak bisa tumbuh bersama?” katanya.
Ia melihat banyak pelaku UMKM di Lampung, terutama anak muda, memiliki semangat besar untuk berwirausaha. Namun, keterbatasan akses dan pendanaan kerap menjadi hambatan.
“Saya lihat anak-anak muda di Lampung ini punya kemauan yang besar. Kadang mereka hanya terbentur dana dan modal. Karena itu, kami ingin berkolaborasi dengan mereka,” ucapnya.
Bu Lin pun memasang target yang cukup tinggi. Baginya, kuliner Lampung tak hanya layak dikenal di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.
“Kalau bisa, jangan cuma dikenal di Indonesia. Saya ingin kuliner Lampung mendunia. Kita sama-sama maju dan tumbuh bersama agar UMKM Lampung naik kelas,” ujar Bu Lin.
Menyisihkan 599 Peserta
Program The Next Local Hero mendapat respons besar dari pelaku usaha. Sebanyak 600 peserta mengikuti proses seleksi selama lebih dari enam bulan sebelum akhirnya dipilih para pemenang.
Salah satu pemenang, Kartika Yupitasari, pemilik Seblak Ratu Simi, mengaku tak menyangka bisa lolos dari ratusan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang usaha.
“Perjalanannya luar biasa. Hampir enam bulan kami melewati berbagai tahapan dengan total pendaftar sekitar 600 orang. Saya sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa sampai di titik ini,” kata Kartika.
Menurutnya, kompetisi tersebut bukan hanya tentang memenangkan hadiah, tetapi juga membuka akses belajar dan memperluas jejaring bisnis.
Ia mengaku sempat minder karena harus bersaing dengan pelaku usaha yang telah memiliki banyak cabang dan pengalaman lebih panjang.
“Tantangannya karena pesertanya keren-keren semua. Ada yang sudah punya banyak outlet. Saya sendiri masih minim pengalaman, tapi justru dari sini pengalaman saya bertambah,” ujarnya.
Kartika menilai pelaku UMKM di Bandar Lampung memiliki kreativitas yang tinggi. Namun, banyak di antaranya masih kesulitan membangun citra dan memperkenalkan produknya ke pasar yang lebih luas.
“UMKM di Bandar Lampung itu banyak dan inovatif, tetapi mereka kurang bisa mem-branding diri. Program seperti ini sangat dibutuhkan untuk menunjukkan potensi mereka,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat hadir lebih aktif dalam mendampingi pelaku usaha mikro, mulai dari edukasi hingga pembinaan berkelanjutan.
“Harapan saya, pemerintah bisa menjadi wadah dan pengayom bagi pelaku bisnis mikro seperti kami. Kami siap bekerja sama, diedukasi, dan dibimbing untuk meningkatkan kualitas UMKM di Lampung,” ujar Kartika.
Empat tahun setelah Hari Nyruit Nasional pertama digelar, Bu Lin tampaknya ingin membuktikan bahwa seruit bukan hanya soal rasa. Dari meja makan khas Lampung itu, ia berharap lahir lebih banyak “local hero” yang suatu hari nanti membawa nama daerahnya hingga ke panggung dunia.





