Bandar Lampung – (PeNa), Kesuksesan tak membuat CEO Surya Group, Muhammad Suryo, melupakan tanah kelahirannya. Pengusaha yang kini bermukim di Yogyakarta itu memilih “pulang kampung” dengan membangun pabrik rokok HS di Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Lampung Timur.
Pabrik rokok seluas dua hektare tersebut diproyeksikan menyerap hingga 3.000 tenaga kerja. Tak hanya itu, kehadiran pabrik juga diyakini memicu terbukanya lapangan kerja turunan, mulai dari rantai pasok bahan baku hingga sektor distribusi dan pemasaran.
Saat ini, proses pembangunan pabrik HS telah berjalan. Pria kelahiran Desa Sadar Sriwijaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, itu menargetkan pabrik mulai beroperasi pada tahun depan.
“Targetnya tahun depan sudah beroperasi,” kata Suryo saat jumpa pers Hey Slank X HS: Berani Kita Beda di Azana Boutique Hotel Bandar Lampung, Sabtu (17/1/2026).
Jumpa pers tersebut turut dihadiri seluruh personel Slank, yakni Kaka, Bimbim, Abdee, Ridho, dan Ivanka. Konser Hey Slank X HS: Berani Kita Beda digelar di Stadion Pkor Way Halim, Bandar Lampung, pada Sabtu malam.
Lampung menjadi kota kelima dalam rangkaian konser HS bersama Slank, setelah sebelumnya digelar di Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali.
Menurut Suryo, pemilihan Lampung bukan hanya soal kampung halaman, tetapi juga sebagai bentuk pendekatan kepada masyarakat menjelang beroperasinya pabrik baru.
“HS mau mengetuk pintu dengan masyarakat Lampung. Kami ingin meminta izin dan restu atas pembukaan pabrik di Lampung Timur. Semoga dengan kehadiran HS dapat bermanfaat bagi daerah, membuka lapangan kerja, dan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Seperti perhelatan sebelumnya, konser ini juga melibatkan pelaku UMKM dari komunitas Slankerspreneur. Mereka menghadirkan beragam produk, mulai dari kaset dan rilisan fisik Slank, merchandise resmi, hingga produk kuliner dan gaya hidup karya Slankers.
Suryo menilai konser musik bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas.
“Musik bisa membawa dampak lebih luas. Karena itu, kami merasa wajib berada di barisan yang sama,” katanya.
Muhammad Suryo lahir di Lampung pada 27 Maret 1984. Masa kecil hingga SMA ia habiskan di Lampung Timur, sebelum keluarganya bermigrasi ke Bengkulu. Setelah itu, Suryo melanjutkan pendidikan sarjana di Yogyakarta, sekaligus merintis usaha dari nol.
Perjalanan bisnisnya dimulai dari usaha air isi ulang, lalu berkembang ke sektor konstruksi, minyak dan gas, properti, hingga maskapai penerbangan Fly Jaya. Pada 2024, ia mendirikan pabrik rokok HS di Muntilan, Kabupaten Magelang, dengan awal hanya 30 buruh linting.
HS kemudian berkembang pesat dengan pola perekrutan karyawan yang tak biasa. Suryo tidak mensyaratkan ijazah, usia, maupun pengalaman kerja.
“Itu karena ingat diri saya sendiri yang mulai dari nol tanpa koneksi dan pengalaman. Banyak orang menganggur karena itu, terbentur syarat pengalaman kerja ketika mendaftar, maka saya ingin memberi kesempatan pada yang mau belajar,” ujarnya.
Kebijakan serupa akan diterapkan di Lampung Timur. Warga sekitar pabrik diprioritaskan menjadi karyawan. Mereka akan mendapatkan pelatihan dari tenaga profesional, mulai dari pemilihan daun tembakau, teknik pelintingan, hingga pemahaman standar mutu rokok.
“Kami juga memberi uang saku tiga ratus ribu rupiah selama proses training,” kata Suryo.
Menurutnya, uang saku tersebut bukan sekadar biaya transportasi, melainkan bentuk penghargaan agar para pekerja merasa dihargai sejak hari pertama bekerja.






