PESAGI Minta Pemerintah Serius Atasi Masalah Sungai dan Irigasi

BANDARLAMPUNG (PeNa) Ketidaktegasan pemerintah membuat permasalahan sungai dan jaringan kian menumpuk. Dinas Pengairan Provinsi Lampung dan Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS) yang diberikan kewenangan seolah tidak mampu bekerja secara maksimal.

“Satu persatu permasalahan sungai dan jaringan irigasi nanti akan muncul, yang sudah kita lihat dari yang paling sederhana saja adalah penanggulangan sampah, penataan pohon dan belum lagi permasalahan yang lain,” kata Direktur Pemerhati Sungai dan Jaringan Iriasi (Pesagi), Agus Hermanto.

Pembabatan rumput lereng jaringan yang tidak menghidupkan mesin dan hanya dijadikan moment dokumentasi saja. Foto PESAGI

Segudang permasalahan sungai dan jaringan irigasiĀ  jika dicermati satu persatu, diakibatkan beberapa faktor. Pertama, kurangnya pengawasan teknis ditingkat hulu hingga hilir. kedua tidak dilibatkannya stake holder yang mempu mengawasi secara eksternal tidak hanya sebagai pengawas tapi juga sebagai pihak ketiga yang dapat mamantau dan mengevaluasi.

“Ada kondisi dalam tingkatan hulu hingga hilir yang tidak mampu diawasi menyeluruh baik pengawasan dalam internal pemerintah maupun eksternal. Dari sisi pelaksanaan kebijakan pemerintah hingga monitoring evaluasi masih lemah,” imbuhnya.

Tidak hanya permasalahan musiman seperti penumpukan sampah, ancaman pohon tumbang dan permasalahan yang lainnya seperti pengangkatan lumpur dan babat rumput serta permasalahan sosial yang timbul disepanjang jaringan irigasi. “Masih kurang ketegasan dari pihak pengawasan dan penegakan peraturan internal. Kadang terbentur situasional sehingga pemerintah dalam hal ini BBWSMS dan Dinas Pengairan sendiri gamang dalam mengambil keputusan. Pada fase ini diperlukan ekstraordinary movement ini action,” tegasnya.

Permintaan alat berat untuk pengelolaan sampah, hingga saat ini belum terealisasi. Perapihan pohon sepanjang jaringan juga terhenti karena kebijakan birokrasi yang terhambat. Belum lagi permasalahan bangunan disepanjang irigasi yang makin hari makin tumbuh subur.

“Itu beberapa permasalahan sosial teknis yang nampak belum lagi permasalahan belum terbayarnya tukang babat rumput dan angkat lumpur ditahun ini. Ini kan tragis, P3A menjadi garda terdepan dalam setiap permasalahan irigasi ditingkat paling bawah. Tapi tidak didukung pengkondisian ditingkat atas,” kata dia.

PESAGI berharap ada komunikas mutualisme yang terbangun secara bersinergi agar jaringan dan sungai dapat terjaga. Beban untuk menjadikan Lampung lumbung pangan dengan tiga musim tanam itu masih dinilai berat. “Mari kita semua saling menjaga, saling support satu sama lain. Yang sekiranya dapat menghambat ya disikat, jangan dibiarkan dan diberikan peluang. Nanti kita akan lihat lebih jauh lagi soal babat rumput dan angkat lumpur di hilir. Karena sudah pasti didaerah tersebut minim pengawasan,” kata dia. GUS

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *