Terperangkap Jerat Pemburu Liar, Harimau Sumatera Dirawat Di Lembah Hijau

BANDARLAMPUNG (PeNa) – Seekor harimau sumatera [Panthera tigris sumatrae] jantan dengan kondisi kaki kanan depannya terluka, terpaksa harus diamputasi oleh Tim Medis BKSDA Bengkulu – Lampung, yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan [BBTNBBS] dan Tim Wildlife Rescue Unit [WRU].

Kaki kanan depan harimau itu membusuk, sedangkan bagian perutnya terluka. Kedua luka itu akibat jerat kawat seling di kawasan hutan TNBBS. Lokasi tersebut masuk dalam wilayah Resort Suoh SPTN III, BPTN II Liwa, Kabupaten Lampung Barat dan berada di zona rimba.

Harimau yang diberi nama Kyai Batua itu, kini dalam perawatan intensif dokter hewan di Taman Konservasi Lembah Hijau, Kota Bandar Lampung, Lampung.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung Balai Konservasi Sumber Daya Alam [BKSDA] Bengkulu Hifzon Zawahiri mengatakan, bahwa hingga hari kondisi harimau itu terus membaik.

“Kondisi Batua kian membaik. Selalu diberi vitamin dan juga volume makanan yang terus bertambah. Satu hari ia bisa menghabiskan 4 sampai 6 ekor ayam,” kata Hifzon.

Hifzon menambahkan, Kyai Batua belum bisa disaksikan langsung oleh banyak orang, mengingat kondisinya yang masih belum stabil dan masih dalam isolasi guna proses masa penyembuhan lukanya.

“kami mohon maaf karena saat ini harimau tersebut belum bisa di saksikan secara langsung oleh teman-teman, karena masih dalam isolasi. Hal ini untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan karena sifat liarnya harimau yang reaktif, di khawatirkan akan mengganggu proses penyembuhan luka, karena pergerakan kesana kemari” ujarnya.

Sementara itu Irwan Nasution selaku Pimpinan Taman Satwa Lembah Hijau mengaku sangat berterima kasih kepada Tim yang telah bekerja cepat, hingga terselamatkannya salah satu satwa langka ini.

“kami sebagai lembaga konservasi tentu berkewajiban dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan juga kami sangat berterima kasih kepada tim dari TNBBS, BKSDA, WCS dan semua tim juga tim dokter yang telah bekerja keras dalam hal ini, hingga terselamatkannya harimau ini. Bukan tidak mungkin bila penanganannya lambat, harimau ini bisa mati” kata Irwan.

Irwan menambahkan tim dokter dan tim medis suport dan pantau terus perkembangn Harimau ini. “masih kita isolir dari pengunjung untuk menjaga ketenangannya, supaya pangannya masuk dengan baik, vitaminnya masuk dengan baik. Kita berharap ini dapat mempercepat proses penyembuhan harimau ini. Dan kita berharap di Bandar lampung bisa terdengar auman harimau yang sudah lama tidak terdengar” imbuhnya.

Lembah Hijau telah menyiapkan kandang yang cukup luas untuk harimau, dari mulai pemeliharaan hingga sampai proses pengembangbiakan.

“kami memiliki tempat yang cukup luas untuk perawatan harimau ini, apabila mendapatkan izin untuk di tempatkan disini (Lembah Hijau). Ada 4 kandang yang telah disiapkan sekaligus kolam untuk harimau ini. Kadang untuk tidur, kandang penjepit untuk pengobatan, kandang untuk amparan atau tempat bermain harimau dan kandang kandang untuk berkembang biak dengan betinanya. Secara keseluruhan kami sudah siap” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang di himpun Pelita Nusantara Harimau ini memiliki berat sekitar 110 kilogram, berusia antara 3-4 tahun. Dia ditemukan Selasa [02/7/2019], ketika Tim Patroli Balai BBTNBBS dan Wildlife Conservation Society-Indonesian Program [WCS-IP] melakukan pemantauan populasi harimau di bagian tengah TNBBS [IPZ-Intensive Protection Zone] sebagai rangkaian kegiatan SWTS II.

Proses evakuasi dilakukan pada Rabu, 3 Juli 2019. Tepat pukul 13.26 WIB, Tim WRU tiba di lokasi penjeratan harimau, lalu tim ini mempersiapkan peralatan bius dan kandang angkut. Proses penyelamatan pertama yang dilakukan adalah pembiusan dan tindakan medis untuk mengobati luka. Lalu dibawa ke Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung, untuk perawatan intensif.

Kyai Batua, nama harimau ini bermakna kakak panggilan kehormatan bagi suku Lampung. Sedangkan Batua, mengandung arti harimau jantan itu ditemukan di daerah Batu Ampar yang masuk Desa Ringin Sari, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Lampung.
Tim medis akan terus melakukan perawatan maksimal enam bulan ke depan. Sampai kondisinya cukup baik. (V)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *