Pesisir Barat – (PeNa), Kabut tipis menyelimuti perbukitan Pugung Penengahan ketika sebuah video mulai beredar luas di media sosial. Rekaman itu menampilkan dua pria yang tengah memotong batang-batang kayu besar yang tersusun memanjang di lereng bukit. Di sekeliling mereka, puluhan gelondongan kayu tampak berserakan—seperti jejak aktivitas yang berlangsung bukan hanya sehari dua hari.
Lokasi dalam video berada di Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat. Bagi warga yang tinggal tak jauh dari kawasan itu, pemandangan tersebut bukan hal baru. Namun kali ini, setelah rangkaian bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh, kekhawatiran mereka berubah menjadi suara yang mendesak.
Seorang warga, Ajo, mengaku resah. Ia meminta pemerintah dan aparat penegak hukum turun tangan sebelum kondisi alam di wilayah mereka ikut terancam.
“Tolong dihentikan aktivitas itu. Kalau memang melanggar, tolong ditindak,” ujarnya, Sabtu, 6 Desember 2025.
Ia menambahkan, cuaca belakangan ini tak menentu, dan kerusakan ekosistem bisa berujung fatal.
“Kami takut terjadi bencana seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Cuaca lagi buruk, jangan rusak alam sampai nanti longsor,” kata dia.
Nada serupa datang dari Andala, warga lainnya. Menurutnya, kegiatan penebangan kayu di kawasan itu bukan persoalan baru.
“Sudah lama, tapi anehnya kok nggak tersentuh,” tuturnya. Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang membuat aktivitas tersebut seolah kebal dari penindakan.
Andala berharap video ini menjadi titik balik.
“Harapan kami setelah ini kegiatan itu bisa dihentikan. Kita sudah lihat sendiri bagaimana saudara-saudara kita di Sumatera jadi korban,” ucapnya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum terkait aktivitas dalam video tersebut. Namun bagi warga Pesisir Barat, kekhawatiran mereka sudah cukup jelas: hutan bukan sekadar hamparan pohon, melainkan benteng terakhir dari bencana.






