BANDARLAMPUNG (PeNa) Memasuki musim penghujan, seluruh jaringan irigasi menjadi tempat sampah yang ideal bagi masyarakat, karena kurang taat aturan atau kurang kesadaran akan kebersihan, tapi itulah yang kini sedang terjadi.
Ratusan kilogram sampah rumah tangga bercampur sampah alam ikut hanyut bersama air hujan dari hulu yang mengakibatkan penyumbaran dibeberapa titik pipntu air jaringan Sekampung-Batanghari.
“Sampah dari hulu pasti menjadi beban kami yang dihilir, hampir tiap hari kami bergiliran untuk mengawasi pintu air,” ujar Yuli salah seorang penggiat irigasi.
Jika diakumulasi, terdapat ratusan kilo sampah rumah tangga, belum lagi ditambah dengan sampah alam berupa daun, ranting hingga batang pohon yang hanyut. “Kiriman dari hulu, apasaja yang bisa terbawa dan tersapu air pasti ikut sampai hilir. Kayu hingga bangkai itu sudah biasa. Kadang kami sendiri sampai bingung, sampah yang sudah kami angkat ini mau dibuang kemana karena memang sudah terlalu banyak,” kata dia.

Yuli berharap, ada perhatian pemerintah dari hulu hingga hilir terkait kesadaran masyarakat akan sampah. Termasuk kondisi pohon sepanjang jaringan, karena yang terjadi setiap tahun dan musim penghujan selalu sama. Dihilir, seperti tempat pembuangan akhir sampah,” tegasnya.

Terpisah, Kepala UPTD Wilayah II, Yeni Riyanto mengaku kesulitan dalam menanggulangi sampah pada saat air bah datang. Karena tidak terkontrolnya kondisi hulu sungai sehingga dapat membawa apa saja termasuk sampah. “Itu jadi permasalahan tahunan, kami sendiri masih mencari solusi seperti apa pengamanan jaringan hulu. Tapi saya rasa itu juga kejadian alam, kami hanya bisa mengantisipasi dengan membersihkan pintu-pintu air,” kata dia.
Permintaan alat berat, kata Yeni, sudah diusulkan beberapa kali melalui dinas kepada pemerintah pusat tapi sampai sekarang belum terealisasi. “Harus ada eksapator mengapung utamanya dipintu bedung seperti Argho Guruh yang setiap habis hujan itu seperti lautan sampah,” ujarnya. WAH






