BANDARLAMPUNG – (PeNa), Deru kendaraan di Jalan H. Said, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, masih terngiang di kepala Andika Sanjaya. Minggu (28/12/2025) itu seharusnya berjalan biasa. Ia mengendarai sepeda motor, membawa makanan ringan buatan sang istri untuk dititipkan ke warung-warung, sembari berharap ada penumpang ojol yang bisa ia antar. Namun, satu tikungan mengubah segalanya.
Di lokasi itulah, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari belokan dan mengambil jalur Andika. Dalam hitungan detik, tubuhnya terlempar ke aspal. Mobil itu tak berhenti. Ia justru tancap gas, meninggalkan Andika terkapar dengan luka menganga di kaki kanan, dekat mata kaki.
“Itu hari Minggu, Bang. Saya lagi antar makanan jualan istri ke Jalan Said dari arah Perintis. Tiba-tiba mobil itu keluar dari belokan, langsung ngabisin jalan saya. Saya hindari, tapi malah nabrak. Setelah itu dia kabur,” tutur Andika, mengingat kejadian yang masih membekas di benaknya, Selasa (30/12/2025).
Warga sekitar sempat mendengar teriakannya minta tolong. Beberapa orang kemudian datang membantu dan membawanya ke rumah sakit. Luka di kakinya cukup parah hingga harus dijahit sepuluh jahitan. Hingga kini, rasa nyeri dan bengkak masih menghantui setiap kali ia mencoba berdiri.
“Kaki ini dijahit sepuluh jahitan, Bang. Sekarang masih nyut-nyutan, bengkak, bekas jahitannya juga masih kerasa sakit,” ujarnya lirih.
Akibat kecelakaan itu, Andika tak lagi bisa beraktivitas. Motor yang biasa ia gunakan untuk bekerja rusak parah. Ironisnya, kendaraan tersebut justru ditarik pihak leasing karena menunggak dua bulan, tepat di saat ia tak berdaya usai kecelakaan.
“Motor itu hancur, Bang. Lagi pula memang nunggak dua bulan. Hari itu juga langsung diambil leasing. Jadi saya nggak sempat laporan, laporannya kayak kecabut,” katanya dengan nada pasrah.
Andika mengaku tidak mengenal pengemudi mobil yang menabraknya. Hingga kini, identitas pelaku masih gelap. Rekaman CCTV di sekitar lokasi belum mampu memperjelas pelat nomor kendaraan tersebut.
“Belum ketahuan siapa yang bawa mobil itu, Bang. Di CCTV juga platnya ngeblur,” ungkapnya.
Beban Andika tak berhenti pada luka fisik dan kehilangan kendaraan. Ia juga harus menanggung biaya rumah sakit sendiri. Demi bisa pulang, ia terpaksa meminjam uang dari keluarga dan warga sekitar.
“Keluar rumah sakit itu saya pinjam sana-sini, Bang. Biaya kita tanggung sendiri. Jatuh, ketimpa tangga juga rasanya,” ucapnya.
Kini, sebagai kepala keluarga yang tak bisa bekerja, Andika hanya berharap satu hal: tanggung jawab dari pelaku tabrak lari. Bukan soal ganti rugi besar, melainkan nurani dan kemanusiaan.
“Saya nggak nuntut aneh-aneh, Bang. Saya cuma minta tanggung jawabnya. Kita ini manusia. Kalau dia minta maaf, saya maafin. Saya siap secara kekeluargaan,” katanya.
Dengan kaki yang belum pulih, motor yang hilang, dan dapur yang nyaris tak berasap, Andika berharap polisi segera mengungkap kasus ini. Bagi dirinya, keadilan bukan hanya soal hukum, tetapi tentang harapan seorang ayah agar bisa kembali berdiri dan mencari nafkah untuk keluarganya.






